ZONAUTARA.com – Di tengah klaim pemerintah Iran bahwa mereka masih mampu bertahan dalam konflik dengan Amerika Serikat, tekanan ekonomi di dalam negeri kian berat. Presiden AS Donald Trump berencana meningkatkan sanksi ekonomi yang berpotensi memperparah kondisi masyarakat dan legitimasi pemerintahan Republik Islam.
Presiden Trump pada Jumat lalu mengumumkan akan memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebutkan Washington akan menerapkan langkah-langkah kebijakan yang “belum pernah dilihat sebelumnya” mulai pekan depan, meskipun belum ada penjelasan rinci mengenai sanksi tersebut.
Para pemimpin Iran menghadapi tekanan besar di dalam negeri, terutama karena kondisi ekonomi yang memburuk. Reuters mendapatkan informasi dari tiga pejabat Iran dan 12 warga biasa yang menyatakan kekhawatiran terhadap potensi keresahan nasional akibat situasi ekonomi saat ini.
Arshia, seorang insinyur sipil dari Isfahan, mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah proyek konstruksi banyak yang tertunda atau dibatalkan. “Saya khawatir, jika Trump menjatuhkan lebih banyak sanksi, bagaimana rakyat biasa bisa bertahan?” kata Arshia kepada Reuters.
Penderitaan serupa dirasakan Mohsen, seorang pebisnis asal Bandar Abbas yang harus menutup bisnis impor-ekspornya dan memecat 10 karyawan setelah Iran membalas serangan AS. “Ini menyakitkan, tetapi saya tidak punya pilihan. Saya sekarang mengandalkan tabungan untuk menghidupi keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, inflasi di Iran mencapai 66% pada Juli, dengan harga pangan melonjak hingga 128%, menambah tekanan pada masyarakat yang sudah terhimpit secara ekonomi.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

