ZONAUTARA.com – Penelitian genetik terbaru mengungkap bahwa kepunahan spesies burung honeycreeper di Hawaii jauh lebih signifikan dari yang diperkirakan. Dari satu kelompok finch yang tiba di Kepulauan Hawaii sekitar 5 hingga 6 juta tahun lalu, berkembang lebih dari 60 jenis burung honeycreeper dengan bentuk paruh yang bervariasi. Namun, sebagian besar kini telah punah, mengakibatkan hilangnya cabang utama dalam pohon evolusi mereka.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences dan dipimpin oleh Michael Campana dari Center for Conservation Genomics di Smithsonian’s National Zoo and Conservation Biology Institute. Tim meneliti 38 spesimen museum dari 22 jenis honeycreeper yang punah atau diperkirakan punah, juga mengurutkan 26 genom baru dari spesies yang masih hidup. Hasilnya menunjukkan ada 10 kelompok honeycreeper yang punah total tanpa kerabat dekat yang hidup.
Contohnya, burung mamo yang sebelumnya dikelompokkan dengan ‘i’iwi terbukti memiliki cabang evolusi sendiri. Penemuan ini menunjukkan bahwa fitur lidah tubular untuk meminum nektar bukan penanda kekerabatan dekat. “Proyek ini barulah permulaan dari apa yang bisa diceritakan oleh spesimen museum kepada kita,” kata Campana.
Selain itu, penelitian menemukan perkawinan silang lebih sering terjadi dari yang diperkirakan. Kasus ini ditemukan pada burung Lana’i hookbill, yang sebagian besar DNA-nya berasal dari spesies ‘o’u dan sisa lainnya dari finch yang belum teridentifikasi. Campana menjelaskan, “Hibridisasi tampaknya umum pada awal pembentukan garis keturunan, langka saat spesies berkembang, dan kembali umum saat spesies terancam punah.”
Temuan ini juga memengaruhi taksonomi konservasi, dengan rekomendasi menjadikan Maui ‘amakihi sebagai spesies tersendiri, Chlorodrepanis wilsoni. Langkah ini menyoroti perlunya perlindungan unit konservasi independen per pulau di Hawaii.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

