Kota yang tak pernah selesai dengan sampahnya

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap.
๐Ÿ”“ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Piala Adipura berkilau di bawah lampu sorot. Tanggal 5 Maret 2024, di aula Manggala Wanabhakti Jakarta, Kota Kotamobagu menerima piala itu untuk kesepuluh kalinya. Ini adalah penghargaan bergengsi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas keberhasilan kebersihan dan tata kelola lingkungan perkotaan.

Dua hari kemudian, piala itu diarak keliling kota. Bendera-bendera berkibar. Pengeras suara menyiarkan kata-kata kebanggaan. Warga melambai dari tepi jalan.

Di barisan rombongan itu, ikut pula petugas-petugas kebersihan berseragam oranye. Mereka yang bangun sebelum subuh, mendorong gerobak di lorong-lorong sempit sebelum matahari naik. Wajah para petugas itu hampir tidak pernah masuk bingkai foto resmi pejabat.

Sebelas bulan kemudian, sebagian dari mereka berdiri di depan Kantor Wali Kota, bukan untuk merayakan apa pun, melainkan untuk memprotes. Gaji Januari dan Februari 2025 belum dibayar penuh.

Potongan tak terduga membuat upah yang sudah tidak seberapa itu menyusut lebih jauh lagi. Dari Rp 2,1 juta menjadi Rp 1,4 juta. Lalu datang kabar yang lebih mengejutkan: status mereka sebagai Tenaga Harian Lepas akan segera berakhir. Pekerjaan yang sama akan diteruskan, tetapi bukan lagi di bawah naungan pemerintah kota melainkan melalui sebuah perusahaan vendor pihak ketiga.




Mungkin Piala kesepuluh itu kini sudah berdebu di suatu sudut kantor.

Baca artikel lengkap Kota yang tak pernah selesai dengan sampahnya di Teras.id

๐Ÿ”“ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/kota-yang-tak-pernah-selesai-dengan-sampahnya-2253586

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com