Kebakaran Gunung Awu meluas hingga 913 hektare, ekosistem penting Sangihe ikut terancam

Gunung Awu merupakan habitat sejumlah burung endemik dan dilindungi.

Editor: Redaktur
Kebakaran melanda Gunung Awu di Sangihe sejak 5 September 2026. (Foto: diambil dari Facebook Veigian Ambat)

ZONAUTARA.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, terus meluas setelah terbakar sejak Sabtu, 5 September 2026. Pemerintah daerah kini memperkuat pengamanan di kawasan yang berpotensi terdampak, terutama untuk mencegah api mencapai perkebunan warga di kaki gunung.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut luas kawasan yang terbakar secara kumulatif telah mencapai sekitar 913 hektare. Kebakaran berdampak pada empat kecamatan, delapan kelurahan, dan 14 kampung. Sekitar 200 hektare di antaranya dilaporkan telah berhasil dipadamkan, terutama di wilayah Kecamatan Tahuna Barat.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pemetaan BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Rabu, 9 September, yang mencatat sebaran area terpapar api mencapai 805,78 hektare. Sebelumnya, pada Selasa (8/9) pukul 17.00 WITA, pemantauan menggunakan drone, BPBD masih mencatat sekitar 55 hektare kawasan terbakar. Pembaruan data dari hari ke hari menunjukkan besarnya area yang kini harus diawasi petugas.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengatakan pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para camat, kapolsek, dan danramil dari wilayah berpotensi terdampak telah menggelar rapat koordinasi untuk memetakan risiko jika kebakaran terus meluas.

“Lewat rapat tadi kami memetakan wilayah yang berpotensi bahaya, membagi tugas penanganan dan membuat perimeter batas toleransi api serta metode pemadaman sebelum masuk ke perkebunan warga,” kata Thungari.




Hingga rapat koordinasi itu berlangsung, menurut Thungari, belum ada api yang masuk ke perkebunan masyarakat. Titik api terdekat berada di lereng yang mengarah ke Kampung Bahu.

Pemkab Sangihe berupaya menjadikan jarak tersebut sebagai ruang untuk menahan pergerakan api. Selain menentukan perimeter pengamanan, pemerintah membagi tugas penanganan kepada unsur-unsur di lapangan serta menyusun metode pemadaman sebelum kebakaran mencapai kawasan produksi masyarakat.

Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan biaya operasional untuk kecamatan-kecamatan yang terlibat dalam penanganan. Thungari mengatakan dana tersebut akan dicairkan agar kebutuhan logistik maupun operasional tim dan relawan dapat disediakan melalui pemerintah kecamatan masing-masing.

gunung awu

Medan menjadi salah satu kendala terbesar. Pemantauan lapangan sebelumnya menemukan sejumlah titik api berada di lereng menuju puncak dan sulit dijangkau. Vegetasi kering, terutama ilalang, mempercepat pergerakan api, sementara akses yang terbatas dan minimnya sumber air menyulitkan pemadaman dari darat.

Bupati Sangihe Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari, Forkopimda, petugas dan relawan menempuh perjalanan sekitar delapan jam pergi-pulang hingga ketinggian sekitar 1.000 meter untuk memantau kejadian ini secara langsung. Dari jangkauan tim ketika itu terlihat sedikitnya lima titik api yang sulit dicapai. Pemkab kemudian mengandalkan pemantauan drone secara berkala untuk melihat perubahan titik api dan arah pergerakannya.

Di Kecamatan Kendahe, upaya menahan kebakaran juga melibatkan warga. Yahya Muridang Onthoni, dalam laporan kegiatan yang dibagikannya di Facebook, menyebut relawan dari Kampung Kendahe I dan Kendahe II serta sejumlah relawan dari Tahuna turun bersama perangkat kampung dengan pendampingan anggota TNI dan Polri di sekitar Puncak Mini Kendahe.

Kekhawatiran terutama muncul karena api bergerak ke arah kawasan perkebunan. Bagi banyak keluarga di Kendahe dan Tabukan Utara, kebun pala, kelapa dan cengkeh menjadi sumber penghidupan utama.

gunung awu
Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan Gunung Awu. (Foto: Pemkab Sangihe)

Warga Sangihe lainnya, Sesni Sawitri, melalui unggahan di Facebook menggambarkan asap tebal dari Gunung Awu yang terlihat dari Kecamatan Tabukan Utara dan Kendahe. Ia mengingatkan bahwa ancaman kebakaran tidak berhenti pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga berpotensi memukul ekonomi keluarga apabila menjangkau kebun-kebun rakyat.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah. Thungari meminta masyarakat tidak panik dan mengikuti informasi resmi, sembari menyatakan aparat, pemerintah kecamatan, pemerintah kampung, relawan dan komunitas masyarakat masih bekerja di lapangan.

Ekosistem penting Sangihe ikut terancam

Dampak kebakaran Gunung Awu tidak hanya menyangkut kawasan hutan dan perkebunan masyarakat. Lereng Gunung Awu merupakan bagian penting dari bentang alam keanekaragaman hayati Pulau Sangihe.

Gunung Awu tercatat sebagai Important Bird and Biodiversity Area (IBA) dan Key Biodiversity Area (KBA). Basis data KBA global mencatat kawasan ini penting antara lain bagi burung serindit sangihe (Loriculus catamene) dan burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei), dua jenis burung dengan sebaran terbatas di Sangihe.

Materi Burung Indonesia mengenai kebakaran Gunung Awu yang diposting di akun Intagrma mereka, menyebut kawasan itu sebagai habitat sejumlah burung, antara lain burung-madu sangihe, serindit sangihe, celepuk sangihe (Otus collari), serta paok sulawesi (Erythropitta celebensis). Burung-madu sangihe saat ini masuk kategori Rentan atau Vulnerable dalam Daftar Merah IUCN.

Pemantauan Burung Indonesia selama 2020-2025 juga mencatat burung-madu sangihe di kawasan IBA/KBA Gunung Awu. Pemodelan habitat organisasi tersebut menempatkan hutan Gunung Awu sebagai salah satu bagian dari bentang habitat yang sesuai bagi spesies endemik itu, bersama Gunung Sahendaruman dan kawasan perbukitan yang menghubungkan keduanya.

gunung awu
Warga menyaksikan karhutla yang terjadi di Gunung Awu. (Foto: Facebook Kel Lumengga Papehaseng Evrin)

Karena itu, kebakaran dalam skala besar berpotensi menimbulkan persoalan berlapis, seperti hilangnya tutupan vegetasi, terganggunya habitat satwa, sekaligus meningkatnya ancaman terhadap perkebunan yang menjadi sumber pendapatan masyarakat di kaki gunung.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe telah menutup sementara aktivitas pendakian dan membatasi orang memasuki Hutan Lindung Gunung Awu serta Hutan Lindung Gunung Sahendaruman I dan II tanpa izin. Warga juga diminta tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok maupun benda yang dapat memicu api, serta segera melaporkan titik api baru.

BNPB, dalam pembaruan penanganan karhutla nasional pada Kamis (10/9), memasukkan Gunung Awu sebagai salah satu lokasi kebakaran luas yang terus dipantau di luar enam provinsi prioritas karhutla nasional.

Tantangannya kini adalah menahan api sebelum mencapai batas yang paling dikhawatirkan warga yakni kebun-kebun pala, kelapa, dan cengkeh di kaki Gunung Awu.

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com