ZONAUTARA.com – Pendapatan Ramli Mohammad, (41), seorang penjual rempah-rempah, ikut terdampak di tengah kondisi harga cabai rawit yang meroket seiring dengan tekanan cuaca panas yang mengganggu produksi di sejumlah sentra.
Ramli mengatakan, untuk stok cabai rawit yang masuk dari luar provinsi sebenarnya masih terbilang aman. Hanya saja, kata dia, harga yang dibeli terlalu mahal.
“Saya jual ini varietas cabai dari Sulawesi Selatan. Di kirim menggunakan cargo. Harganya Rp.140.000 per kilogram,” ucap Ramli saat ditemui Zonautara.com di Pasar Girian, Kelurahan Girian Weru Satu, Kecamatan Girian, Kota Bitung pada Jum’at 25 September 2026.
Di tengah kondisi tersebut, beber Ramli, bukan berarti penjual rempah tidak terdampak. Secara otomatis mempengaruhi jumlah pembelian konsumen.
“Jumlah pembeli jadi berkurang. Sementara, kami sudah membeli dengan harga yang sangat tinggi. Apalagi rica (cabai) ini tak bisa tahan terlalu lama,” bebernya.
Operasi pasar oleh pemerintah, menurut Ramli bukan solusi paling efektif di keadaan cuaca panas berkepanjangan seperti ini.

“Saya kira yang perlu dilakukan memperkuat sentra-sentra produksi. Coba dicek, semua pasar harga cabai mahal, karena biaya produksi petani bertambah. Bahkan ada yang gagal panen,” katanya, sembari mengatakan bukan hanya cabai yang mahal, tapi sayur juga harganya sangat tinggi.
Harga cabai rawit merata
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bitung Steven Prok menyatakan, harga cabai rawit ada di angka Rp.150.000 per kilogram (Kg).
Harga tersebut, kata Steven, merata di sejumlah daerah yang ada di Sulawesi Utara.
“Beberapa hari lalu saya ikut rapat inflasi, hampir semua daerah harganya sama. Penyebab cabai mahal karena disebabkan oleh faktor cuaca kemarau panjang atau El nino. Sehingga produksi cabai mengalami penurunan, Dan Bitung selalu berharap pasokan dari luar,” katanya.

Steven menyatakan kebutuhan cabai rawit di Kota Bitung sebenarnya ada di angka 71 ton per bulan. Dan yang paling standar produksinya mencapai 10-15 ton per bulan.
Namun, di tengah kondisi kemarau panjang hanya ada di angka 6 ton cabai per bulan.
“Artinya defisit masih terlalu banyak, kita ketergantungan dengan pasokan dari luar. Sementara sentra-sentra produksi dari luar mengalami penurunan. Keadaan ini telah menjadi atensi pemerintah pusat,” tuturnya.
Untuk langkah yang akan dilakukan pemerintah kota Bitung, Steven menjelaskan ia sudah berkoordinasi dengan Wali Kota Bitung Hengky Honandar.
“Dalam APBD perubahan, pemerintah akan menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat atau kelompok rentan yang tidak tercover dengan bantuan pangan. Muda-mudahan awal bulan depan sudah bisa jalan,” jelasnya.
Disperindag klaim stok cabai terjaga
Kepala Dinas Perdagangan Kota Bitung Robert R Wongkar mengatakan telah melihat secara langsung harga dan stok cabai yang ada di pasar-pasar tradisional.
Untuk harga di pasar, kata Robert, tergantung dari varietas. Ada tiga varietas cabai yang dijual. Yaitu, dari Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Jawa.
“Dari tiga varietas itu harganya beda-beda. Paling mahal cabai dari Gorontalo yang menyentuh angka Rp.150.000 per kilogram,” tutur Robert kepada Zonautara.com.
Robert belum bisa memastikan apakah bakal melakukan operasi pasar atau tidak. Mengingat, katanya, kondisi serupa terjadi di semua daerah.
“Kami akan berkoordianasi dulu dengan Perumda Pasar. Dan yang pasti hasil dari turun lapangan ini stok cabai masih aman. Tapi, agak mahal karena kodisi cuaca,” tukasnya.

