ZONAUTARA.com —Â Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar kegiatan translokasi terhadap 58 ekor satwa liar hasil sitaan dan temuan di kawasan Pelabuhan PT ASDP Indonesia Ferry.Â
Puluhan satwa tersebut didominasi oleh spesies burung paruh bengkok yang habitat asalnya berada di wilayah Maluku Utara.
Kepala BKSDA Sulawesi Utara, Danny Pattipellohy, menjelaskan bahwa satwa yang akan dikembalikan ke habitat asalnya terdiri dari berbagai jenis satwa, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi.
“Sejumlah 58 ekor satwa liar ini merupakan hasil sitaan dan temuan,” kata Danny di sela-sela kegiatan, Senin, (28/09/2026).
Adapun rincian satwa yang ditranslokasikan meliputi, 35 ekor kasturi Ternate, 18 ekor nuri bayan, 2 ekor nuri kalung-ungu, 1 ekor kakatua alba (kakatua putih), 1 ekor ular manuk tana, serta 1 ekor biawak Maluku
Menurut Danny, banyaknya jumlah unggas endemik seperti kasturi Ternate merupakan bukti nyata dari upaya penegakan hukum terhadap kejahatan satwa liar. Seluruh satwa tersebut sebelumnya telah menjalani perawatan medis intensif di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki.
“Satwa-satwa ini sudah dilakukan proses penanganan secara medis di PPS Tasikoki. Kita pastikan kondisi kesehatan satwa sudah betul-betul fresh, sifat liarnya kembali, dan ready untuk dikembalikan ke habitat asalnya,” ujarnya.
Langkah translokasi ini juga merujuk pada Peraturan Menteri Kehutanan P.106/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Danny menegaskan bahwa pemulihan keberadaan satwa di alam liar sangat krusial untuk menghadapi triple planetary crisis, khususnya krisis keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

Dipastikan bebas avian influenza
Sebelum diberangkatkan, pihak Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sulawesi Utara memastikan seluruh satwa berada dalam kondisi prima.
Dokter hewan di BKHIT Sulawesi Utara, drh. Setyawan Pramularsih, menyebutkan pemeriksaan laboratorium telah dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah penularan penyakit.
“Dari hasil pemeriksaan kesehatan dan laboratorium, penyakit avian influenza negatif, terus hewan semua dalam keadaan sehat. Persyaratan utama dari kami, hewan tersebut harus sehat,” tutur Setyawan.
Ia menambahkan, sebagian dari puluhan satwa tersebut merupakan hasil penindakan kasus penyelundupan dari Maluku Utara di jalur pelabuhan yang dikumpulkan selama beberapa kurun waktu terakhir.
Setelah digagalkan pihak Karantina, satwa diserahterimakan ke BKSDA, dirawat di PPS Tasikoki, dan kini dikembalikan ke daerah asalnya.

Dukungan lintas instansi
Kelancaran proses pemulangan satwa ini mendapat dukungan penuh dari PT ASDP Indonesia Ferry yang menyediakan sarana transportasi penyeberangan.
Department Head Bisnis dan Pelayanan PT ASDP, Herdiman, menyatakan kesiapannya dalam mendukung operasional translokasi hingga satwa tiba di tujuan.
“Kami siap memfasilitasi untuk kapalnya. Nanti komandan di atas kapal juga akan berkoordinasi untuk pelimpahan dan kita siap menyeberangkan kembali satwa-satwa ini ke habitatnya,” kata Herdiman.
BKSDA Sulut berharap aksi ini menjadi momentum edukasi bagi masyarakat dan generasi muda agar membiarkan satwa liar hidup bebas di alam, serta senantiasa mematuhi regulasi terkait pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar di Indonesia.

