ZONAUTARA.com – Meninggalnya Muhammad Rasya Fadilla, mahasiswa program Diploma III Studi Nautika di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, Aceh pada Minggu (27/9) menimbulkan duka mendalam bagi keluarga besar Sekolah Sukma Bangsa. Kematian Rasya diduga berkaitan dengan perlakuan selama mengikuti ospek di perguruan tinggi tersebut.
Kejadian ini menyisakan tanda tanya besar karena penyebab pasti kematiannya belum terungkap. Banyak pihak, termasuk masyarakat dan sekolah, mendesak agar kasus ini diusut dan diproses hukum dengan tuntas. Direktur Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Zubir A Gani, mengenang Rasya sebagai pribadi yang santun dan hormat kepada teman-temannya.
Rasya, lahir pada 10 Februari 2008 di Lhokseumawe, sudah 12 tahun menempuh pendidikan di Sukma Bangsa. Selama itu, ia dikenal ringan tangan dan aktif dalam kegiatan kesenian, khususnya musik. Ia pernah membentuk grup marching band dan meraih juara di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Selain itu, Rasya juga aktif dalam OSIS.
Keprihatinan juga disuarakan oleh Marthunis Bukari, Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, yang meminta agar kasus ini diawasi oleh DPR agar dapat terungkap kebenarannya. Ghina Zuhaira, dokter muda alumni Sukma Pidie, mengajak siswa dan alumni untuk belajar dari kejadian ini tanpa berlarut dalam trauma.
Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, telah menyiapkan pendampingan hukum bagi keluarga Rasya, sementara Anggota DPD RI, Sudirman Haji Uma, juga mendesak pengusutan tuntas atas kematian taruna Poltekpel Malahayati tersebut.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

