Prancis Terancam Krisis Utang, UBS Ingatkan Langkah Keras

Krisis utang Prancis makin parah, CEO UBS desak langkah tegas untuk atasi masalah. Imbal hasil obligasi melonjak, utang jadi perhatian utama.

Redaktur AI
Penulis:
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Bank dan perusahaan jasa multinasional UBS telah mengeluarkan peringatan terhadap Prancis, dengan CEO Sergio Ermotti mendesak perlunya langkah tegas guna mengatasi krisis utang negara tersebut yang terus mencemaskan. Menurut Ermotti, perubahan kecil tidak akan memadai untuk mengatasi situasi ini, menyerukan upaya yang lebih signifikan.

Berdasarkan laporan dari CNBC Internasional, pada Rabu (7/10/2026), Ermotti membandingkan situasi pasar obligasi Eropa saat ini dengan krisis utang zona euro pada tahun 2011. Saat tampil dalam acara “Squawk On The Street” di CNBC pada Selasa, ia menekankan bahwa skala ekonomi Prancis yang besar membuat masalah utangnya lebih rumit dan memerlukan penanganan khusus.

“Kami telah melalui situasi serupa dalam 10 hingga 15 tahun terakhir di Spanyol, Italia, Yunani, dan Portugal,” kata Ermotti. “Negara-negara yang mengalami krisis besar ini sekarang menjadi negara dengan kinerja terbaik di Eropa.”

Tekanan utang yang dihadapi Prancis dapat memerlukan langkah serupa untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi yang kredibel. Saat ditanya tentang kemungkinan penghematan drastis, Ermotti dengan jelas menyatakan bahwa langkah keras diperlukan untuk menangani tumpukan utang yang besar.

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis, OAT, telah mengalami lonjakan tajam baru-baru ini, menggambarkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap situasi fiskal Prancis yang memburuk. Pada Selasa, imbal hasil acuan surat utang Prancis 10 tahun tercatat di angka 4,7689%, setelah sebelumnya turun 9 basis poin. Biaya pinjaman Prancis itu kini lebih tinggi dari Yunani dan Italia.

Menanggapi potensi kebangkrutan ekonomi ini, kandidat presiden sayap kanan Marine Le Pen berkomitmen untuk melakukan penghematan anggaran besar-besaran untuk mengendalikan utang. Le Pen memperingatkan bahwa Prancis menghadapi risiko gagal bayar jika situasi ini dibiarkan.




Mitch Reznick dari Federated Hermes mencatat bahwa Prancis kini menjadi fokus utama kesengsaraan obligasi Eropa. “Utangnya semakin dihargai kurang seperti Eropa inti dan lebih seperti wilayah pinggiran,” ucap Reznick. Ia menambahkan bahwa investor mulai meninggalkan obligasi Prancis dan memilih Bund Jerman yang lebih aman, memperlebar selisih antara keduanya. Meskipun ECB belum kemungkinan campur tangan, perubahan langkah mungkin terjadi jika selisih ini terus meningkat.

“Selisih OAT-Bund telah bergerak di atas 140 basis poin, seiring perhatian beralih ke utang Prancis yang tinggi, defisit besar, peningkatan pasokan obligasi, dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden,” tambah Reznick.

Diolah dari laporan CNBC Indonesia – News.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com