ZONAUTARA.com – Ketika menonton pertandingan olahraga anak usia muda, seperti sepak bola, banyak orang tua hadir untuk memberikan dukungan. Namun, tidak jarang ada orang tua yang berteriak dari pinggir lapangan kepada wasit atau memberi instruksi yang dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan anak. Fenomena tersebut dikenal sebagai ‘toxic sports parents’.
Menurut Lucy Fuller, seorang Psikolog Anak, Remaja, dan Orang Tua yang dilansir dari The Guardian, fenomena ini terjadi secara global. Orang tua sering tidak menyadari bahwa dukungan mereka bisa menghambat perkembangan anak. Faktor lingkungan dan latar belakang orang tua, termasuk mereka yang sebelumnya bercita-cita sebagai atlet namun gagal, sering menjadi penyebab.
Fuller mengungkapkan bahwa mantan atlet sering kali ingin agar anak mereka tidak bernasib serupa. Namun, tanpa disadari, tekanan tersebut justru dapat mempengaruhi perkembangan mental serta keterampilan anak. Bahkan, sikap berlebihan tidak hanya berasal dari ketidakpuasan masa lalu, tetapi juga dari peran sosial dan metode kesuksesan yang diterapkan dalam hidup sehari-hari.
Jika salah satu orang tua menjadi ‘toxic’, pasangan atau orang dekat memiliki peran untuk mengingatkan. Dalam kasus ketika kedua orang tua bersikap berlebihan, harus ada pihak yang dapat menenangkan dan memberikan perspektif yang lebih sehat. Hal ini penting agar tekanan yang dialami anak tidak menghalangi potensi mereka di masa depan.
Setiap kasus ‘toxic sports parents’ bervariasi. Namun, yang jelas, pendekatan yang lebih mendukung dan tidak menekan perlu diterapkan supaya bakat dan mental anak dapat berkembang secara optimal, tanpa terbebani tekanan dari harapan berlebihan orang tua.
Diolah dari laporan Tirto.id.

