ZONAUTARA.com – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan perilaku publik di era digital, praktisi humas di Indonesia dituntut untuk membangun kepercayaan, membaca konteks, dan memastikan komunikasi yang berdampak nyata. Hal ini disoroti dalam forum “PEMUDA 2026 – Ruang Humas Muda” sebagai bagian dari Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 di Solo, Jawa Tengah, Minggu (18/10).
Forum ini, yang bertema “Humas sebagai Daya Bangsa – Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia”, menyoroti peran generasi humas muda dalam menjaga reputasi sekaligus menjawab tantangan komunikasi yang terus berkembang. Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, menekankan pentingnya pewarisan nilai, etika, dan standar profesional dalam regenerasi profesi humas.
“Generasi senior tidak cukup mewariskan panggung. Yang harus terus mengalir adalah standar, etika, keberanian berpikir, dan tanggung jawab profesi,” ungkap Boy. Hal ini didukung oleh pendapat Co-Founder Total Politik, Budi Adiputro, dan kreator konten lingkungan, Jerhemy Owen, yang menekankan pentingnya memanfaatkan viralitas konten sebagai langkah awal untuk mendorong perubahan nyata.
Sementara itu, CEO & Founder JEJAKIN, Arfan Arlanda, menambahkan bahwa komunikasi yang berhasil tidak hanya diukur dari seberapa luas pesan tersebar, tetapi juga dari sejauh mana perubahan nyata dapat dibuktikan. Prinsip serupa disampaikan oleh Troy Reza Warokka, yang mencontohkan pengelolaan reputasi destinasi The Mandalika di Indonesia, yang memerlukan konsistensi informasi dan kesiapan operasional.
Keberlanjutan profesi humas juga bergantung pada kesiapan generasi muda mengambil peran kepemimpinan. Menurut Ketua PERHUMAS Muda Jakarta Raya 2024-2025, Andi Raviali Ramadhan, estafet kepemimpinan harus dimaknai sebagai proses meneruskan nilai dan tanggung jawab profesi, bukan hanya pergantian generasi semata.
Diolah dari laporan CNN Indonesia – Nasional.

