ZONAUTARA.com – Pada 2024, Zonautara.com menulis tentang perempuan-perempuan di Desa Pindol, Kabupaten Bolaang Mongondow, yang kehilangan kebun dan sumber penghidupan akibat pembangunan Bendungan Lolak. Di antara mereka ada Sumarni Potabuga, yang mengaku belum menerima ganti rugi atas tanah keluarganya yang kini tergenang air.
Dua tahun kemudian, persoalan itu belum selesai menurut Sumarni. Ketika reporter kami kembali menemuinya pada 17 Oktober 2026, perempuan berusia 62 tahun tersebut masih memperjuangkan hak yang menurutnya belum dipenuhi.
Namun Bendungan Lolak juga menghadirkan cerita lain.
Di sejumlah persawahan Kecamatan Lolak, petani telah merasakan manfaat irigasi. Air mengalir melalui saluran dan memungkinkan mereka mengolah sawah ketika kemarau berlangsung. Di kawasan lain, petani masih bergantung pada hujan, sementara jaringan irigasi yang direncanakan belum menjangkau lahan mereka.
Dua keadaan ini menjadi alasan penting mengapa Zonautara.com kembali ke Lolak.
Kami ingin memahami sejauh mana manfaat sebuah proyek besar benar-benar dirasakan masyarakat, sekaligus menelusuri persoalan yang masih menyertainya.
Bendungan berdiri, Pekerjaan belum selesai
Bendungan Lolak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 23 Februari 2024. Pembangunan dan pengawasannya menelan anggaran sekitar Rp2,02 triliun, menurut Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I.
Bendungan ini dirancang untuk menyediakan air bagi pertanian, memasok air baku, membantu pengendalian banjir, dan mendukung pemanfaatan sumber daya air lainnya.
Hampir tiga tahun setelah peresmian, sebagian manfaat itu sudah berjalan, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pekerjaan lanjutan.
Dalam keterangan kepada Zonautara.com, BWS Sulawesi I menyebut Bendungan Lolak dirancang melayani daerah irigasi seluas 2.214 hektare. Dari jumlah tersebut, 908 hektare merupakan daerah irigasi eksisting yang menurut BWS telah memperoleh pasokan air. Sementara jaringan pengembangan untuk 1.306 hektare lainnya belum dibangun.
Apa yang menghambat pembangunan jaringan itu? Bagaimana perencanaan irigasi berhadapan dengan persoalan pengadaan tanah dan rencana pengembangan kawasan industri? Siapa yang bertanggung jawab memastikan pekerjaan yang belum selesai dapat dilanjutkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin penting ketika kemarau panjang melanda Bolaang Mongondow sepanjang 2026.
Bagi petani, manfaat bendungan bukan semata besarnya kapasitas tampungan. Yang menentukan kehidupan mereka adalah apakah air benar-benar tersedia ketika dibutuhkan dan dapat mencapai sawah yang digarap.

Mengikuti jejak air dan kehidupan warga
Untuk memahami persoalan tersebut, tim Zonautara.com mendatangi Bendungan Lolak, bangunan bendung, saluran irigasi, serta kawasan pertanian yang telah memperoleh air dan yang masih mengalami kesulitan.
Kami berbicara dengan petani, warga yang terdampak pengadaan tanah, pengelola bendungan, pejabat pemerintah, dan pihak-pihak yang terlibat dalam perencanaan pengembangan kawasan.
Tim Data Zonautara.com juga menggunakan peta sawah Badan Informasi Geospasial dan citra satelit Sentinel-2 untuk menelusuri perubahan kondisi vegetasi persawahan sepanjang Juli hingga September 2026.
Hasil penghitungan satelit memberi gambaran tambahan mengenai wilayah yang mengalami penurunan indeks kehijauan dan kelembapan vegetasi. Namun temuan itu bukan pengukuran langsung sawah yang mengalami gagal panen, dan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa Bendungan Lolak menjadi penyebabnya.
Kami mempertemukan temuan lapangan, keterangan para pihak, dokumen perencanaan, serta pengolahan data untuk menguji manfaat yang telah dicapai dan hambatan yang masih ada.
Liputan ini tidak berangkat dari kesimpulan bahwa seluruh proyek gagal. Kami juga tidak menganggap selesainya pembangunan fisik sebagai bukti bahwa seluruh tujuan telah terpenuhi.
Yang ingin diketahui adalah apa yang sudah berubah dalam kehidupan masyarakat, apa yang belum, dan mengapa.

Menguji manfaat PSN di Sulawesi Utara
Pada 20 Oktober 2026, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka genap berusia dua tahun.
Bendungan Lolak merupakan salah satu proyek yang dibangun sebelum pemerintahan saat ini. Namun pemanfaatan infrastruktur, penyelesaian pekerjaan pendukung, dan penanganan persoalan yang belum tuntas tetap menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan yang berkelanjutan.
Pertanyaan serupa juga muncul pada proyek strategis nasional lainnya di Sulawesi Utara.
Karena itu, selain Bendungan Lolak, serial kami menelusuri perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus Bitung, pemanfaatan Jalan Tol Manado–Bitung, serta sejumlah proyek lain yang relevan dengan kehidupan dan perekonomian masyarakat.
Setiap proyek memiliki tujuan, sejarah, hambatan, dan ukuran manfaat yang berbeda. Semuanya perlu dinilai berdasarkan bukti, bukan sekadar besarnya anggaran atau pernyataan keberhasilan.
Ikuti Serial Liputan kami di Teras.id
Sejak 19 Oktober 2026, Zonautara.com mulai menerbitkan rangkaian laporan khusus Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Utara, melalui platform kolaborasi media Teras.id, dalam edisi khusus Rapor Dua Tahun Prabowo–Gibran.
Serial ini terdiri atas sedikitnya sepuluh sajian jurnalistik, mulai dari berita perkembangan, reportase mendalam, pengalaman warga, hingga penjelasan berbasis data.
Pembaca Zonautara.com dapat mengikuti serial ini melalui laporan pembuka tentang Bendungan Lolak di Teras.id. Untuk mengikuti keseluruhan rangkaian liputan, pembaca juga dapat mengakses halaman dukungan dan berlangganan.
Kami berharap laporan-laporan ini membuka ruang bagi pembaca untuk memahami pembangunan dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sebab setelah sebuah bendungan berdiri dan diresmikan, masih ada pertanyaan yang layak terus diajukan: seberapa jauh manfaatnya telah sampai kepada warga yang membutuhkan?

