Bagaimana mitigasi iklim di pulau vulkanik Kepulauan Sitaro

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
👑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Matahari baru saja naik beberapa jengkal di atas perkebunan Siau Barat Utara, namun keringat telah membasahi seluruh tubuh Hendra Kuera. Lelaki paruh baya dari Desa Kinali ini harus mengayunkan langkah kakinya dengan sangat hati-hati di atas jalan setapak berbatu yang curam dan licin.

Di pundaknya yang kokoh, sebilah bambu memikul beban dua galon plastik berkapasitas masing-masing 25 liter, bergoyang seirama langkahnya. Setiap hari, rute melelahkan ini harus ia tempuh hingga beberapa kali, berjalan menuruni jalan curam hanya untuk menjangkau satu-satunya mata air gratis tersisa yang belum sepenuhnya mengering.

Bagi Hendra, berjalan kaki memikul air sejauh berkilo-kilometer adalah pilihan koping terpaksa demi menyelamatkan dapur keluarga dari kemarau kering yang telah berlangsung berbulan-bulan. “Kalau bisa saya tidak membeli. Saya lebih memilih mengangkat air yang gratis, walaupun harus capek bolak-balik. Soalnya kalau membeli terus, cukup terasa juga di rumah,” kata dia saat ditemui pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Hendra sebagaimana penduduk pulau Siau pada umumnya adalah petani. Penghasilannya tidak menentu, memaksa ia harus benar-benar berhemat. Sebagai buruh tani musiman, pengeluaran membeli air tawar keliling dirasanya dapat seketika meruntuhkan keseimbangan belanja rumah tangganya yang kian menipis.

“Untuk kebutuhan tertentu memang terpaksa membeli air, terutama kalau air yang kami angkat sudah tidak cukup. Tapi sebisa mungkin saya ambil sendiri, karena uang yang ada lebih baik digunakan untuk kebutuhan rumah yang lain,” ujarnya.

Kondisi yang jauh lebih menekan dirasakan oleh Cherry Paat, 40 tahun, seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara. Bagi Cherry dan kelompok perempuan di desanya, krisis air bersih bukan sekadar perkara hilangnya kenyamanan domestik, melainkan awal dari pergeseran drastis peran sosial, alokasi energi fisik, dan waktu produktif mereka.

Sejak sumur-sumur galian di kampung mereka mengering akibat kemarau kering, Cherry harus mengatur siasat hidup di tengah himpitan ekonomi. “Saya tinggal di desa dengan kondisi rumah jauh dari jalan raya sehingga tidak bisa membeli air untuk tong. Kami sekeluarga membeli air di galon 7.000 rupiah ukuran 25 liter,” kata Cherry Paat saat ditemui di teras rumahnya.

Ia bercerita bahwa sudah tiga bulan lebih mereka menderita akibat kondisi air bersih yang semakin susah. Untuk menyiasati kebutuhan air, mencuci baju, misalnya, Cherry bersama ibu-ibu di desanya mengatur jadwal mencuci seminggu sekali ke pantai di Desa Kanawong. Di sana air masih bisa diperoleh secara gratis, meski bersumber dari air payau.

Baca artikel lengkap Bagaimana mitigasi iklim di pulau vulkanik Kepulauan Sitaro di Teras.id

👑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/bagaimana-mitigasi-iklim-di-pulau-vulkanik-siau-kepulauan-sitaro-2283729

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com