Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sore mulai turun di Desa Babo, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sabtu 15 Agustus 2026. Dengan tolu yang menutupi kepalanya, Putih Hati Paropo, 54 tahun, menyiram tanaman semangka di lahan yang sebelumnya merupakan petak sawah padi miliknya. Bersama beberapa petani lain, ia bergantian membawa ember air untuk memastikan tanaman yang masih tersisa tetap hidup di tengah tanah tadah hujan yang mengering.
Bagi Putih Hati, menanam semangka bukan sekadar mengganti komoditas. Ini adalah ikhtiar koping darurat untuk bertahan hidup setelah sawah tadah hujannya seluas 1,5 hektare mengalami puso total akibat El Niño berkepanjangan. Dari normalnya ia bisa meraup 90 karung gabah bersih sekali panen, kemarau ekstrem tahun ini memangkas habis produksinya hingga tersisa 30 karung kering.
Sebagai orang tua tunggal yang membiayai anak bungsunya kuliah di IAIN Manado, kegagalan panen adalah guncangan ekonomi yang langsung memukul ruang dapurnya. “Kesulitan saya sebagai petani perempuan menghadapi kemarau panjang ini, luar biasa, tidak tahu mau bilang apa lagi,” kata Putih Hati, Sabtu 15 Agustus saat Zonautara.com menyambangi beberapa kampung di Sangtombolang, salah satu sentra pertanian Bolmong.
Sebagai ibu, ia harus memastikan anak-anaknya bisa makan, dan sebagai “ayah” ia juga harus berusaha memenuhi kebutuhan mereka, walau hanya kebutuhan pokok saja. Ketika panen hangus dan modal belasan juta lenyap, krisis iklim tidak berhenti sebagai angka kerugian sekadar sektoral dalam dokumen dinas pertanian.
Di tingkat tapak, krisis ini menjelma sebagai jam kerja domestik yang hilang, piring-piring makan yang kekurangan gizi, tumpukan utang harian, serta rasa cemas yang mengendap di dalam rumah.

Neno Karlina Paputungan