Ringkasan
ZONAUTARA.com – Aktivitas pertambangan emas tradisional berlangsung secara masif di kawasan perkebunan Lingkobungon, Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, sebagaimana yang diamati oleh Zonautara.com pada Minggu, 4 Mei 2026.
Di salah satu bukit yang merupakan bagian dari perkebunan masyarakat setempat, terdapat lubang tambang lain yang dikerjakan oleh lima penambang. Mereka adalah Mis Agantu, 48 tahun, Jumal Damopolii (23), Ayen Kamuh (29), Wedi Sugeha (27), dan Argi Agantu (23). Kelimanya berasal dari Desa Kopandakan II.
Lubang itu tampak lebih sederhana. Tidak ada mesin diesel penarik karung material hasil galian atau disebut rep. Tidak ada tali tambang yang menjulur ke dasar pantongan (lubang vertikal ke bawah). Semua material dikeluarkan sepenuhnya menggunakan tenaga manusia.
Para penambang menyebut sistem itu dengan istilah “tos” atau “passing”, mengadopsi istilah dalam permainan bola voli. Mekanismenya hampir serupa. Karung-karung material dari dasar lubang dioper secara bertahap dari satu pekerja ke pekerja lain hingga akhirnya sampai ke permukaan.
Di lorong sempit bawah tanah, satu orang mengangkat karung dari titik penggalian, lalu menyerahkannya ke pekerja di atasnya. Pekerja berikutnya kembali mengoper karung ke titik berikut sampai akhirnya material keluar dari mulut lubang. Semua dilakukan berantai menggunakan tenaga tangan dan koordinasi antarpekerja.
Sistem itu jauh lebih lambat dibanding katrol yang ditarik dengan mesin diesel. Namun bagi kelompok kecil dengan modal terbatas, metode manual masih menjadi pilihan.

Marshal Datundugon 