Ringkasan
ZONAUTARA.com – Aspal berlubang, genangan air dan debu menjadi salam pertama yang didapat tim Zonautara.com ketika menuju Desa Tanoyan Selatan. Meski dijuluki “desa tambang”, desa di Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara ini masih terdapat hamparan sawah dan kebun.
Namun, di kejauhan, sebuah realitas yang kontras terlihat, pemandangan gunung yang digunduli oleh PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), pemegang konsesi kontrak karya beroperasi tak jauh dari wilayah penambangan tradisional.
Semakin dekat ke lokasi pengolahan, suara tromol mengambil alih kesunyian. Dentingan besi dan raungan mesin diesel saling bersahutan. Namun, tak ada wajah beringas yang menyambut. Hanya senyum lelah dari wajah-wajah pekerja.
Dari lokasi tromol, di punggungan gunung yang tidak terlalu tinggi, menganga sebuah lubang berukuran 1×1 meter, di mana enam pekerja baru saja naik dari kedalaman sekitar 20 meter, tubuh mereka dibalut tanah dan debu. Tidak ada helm keselamatan, kacamata pelindung, atau sarung tangan sesuai standar keamanan. Bagi mereka, nyawa hanya disangga oleh susunan papan kayu sederhana dan plastik rol pemompa oksigen.
Jika pada tulisan sebelumnya kita telah melihat struktur modal dan kekacauan legalitas di Tanoyan Selatan, kali ini kita harus melihat dari perspektif yang jauh lebih intim dan manusiawi. Ini bukan lagi sekadar soal legal atau ilegal. Ini adalah potret tentang bagaimana ribuan manusia di Bolaang Mongondow menormalisasi bahaya, membangun mekanisme pertahanan psikologis yang ekstrem, dan berdamai dengan racun serta bayang-bayang maut demi menyambung napas.

Tri Deyna Cahyani 