Ringkasan
ZONAUTARA.com – Pagi itu, Senin, 1 Juni 2026, matahari bersinar lembut di atas lokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Desa Poyowa Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.ย
Langit tampak cerah. Udara pagi masih terasa sejuk. Namun di balik kesejukan itu, bau menyengat dari tumpukan sampah bercampur dengan dengung ribuan lalat yang beterbangan di atas kubangan limbah rumah tangga.
Di antara deretan truk sampah dan suara mesin ekskavator yang bekerja memindahkan sampah ke tanggul penampungan, seorang pria paruh baya berjalan pelan menuju kendaraan yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama bertahun-tahun.
Namanya Iskandar Mokobombang, Usianya 66 tahun. Wajahnya mulai dipenuhi keriput. Rambutnya tak lagi hitam seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu. Namun semangatnya masih sama seperti belasan tahun silam ketika ia memutuskan menjadi sopir truk pengangkut sampah.
Iskandar mulai menjalani pekerjaan ini sejak 2010. Kala itu, Kota Kotamobagu masih dipimpin Wali Kota pertama, Djelantik Mokodompit. Jumlah petugas kebersihan belum sebanyak sekarang, baru sekitar delapan orang. Dia datang dengan harapan sederhana, mencari nafkah untuk keluarganya.
Saat pertama diterima bekerja, ia sudah berstatus kepala keluarga. “Waktu itu saya sudah menikah dan sudah ada anak tiga. Gaji pertama saya Rp 600 ribu sebulan,” kata dia.
Penghasilannya tidaklah besar untuk ukuran tahun-tahun itu. Namun, bagi Iskandar, pekerjaan itu adalah jalan untuk memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anaknya bisa tumbuh dengan layak.

Ronny Adolof Buol 