Ringkasan
ZONAUTARA.com – Di bawah naungan rimbun pohon pala di Desa Kinali, Kecamatan Siau Barat Utara, Eduard Neghe tampak sibuk. Tangan terampil pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu menyusun daun kelapa, meletakkannya di bawah pohon yang telah diberi pasak kayu. Itu dilakukannya untuk membangun “bedeng” atau benteng pengaman.
Bagi Eduard, tumpukan daun itu bukan sampah. Itu adalah teknologi sederhana yang penting untuk menahan buah pala yang jatuh agar tidak menggelinding hilang, sekaligus menjaga kesuburan tanah lewat pembusukan alami.
“Kalau hanya dibanding ASN golongan dua misalnya, menjadi petani jauh lebih menjanjikan atau pun kalau sedang panen jumlah berlebih yang diterima,” ujar Eduard saat ditemui Zonautara.com di kebunnya, Jumat, 16 Januari 2026.
Eduard adalah potret petani pala modern di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Ia tidak sekadar mewarisi tanah, tetapi merawatnya dengan akal budi. Namun, di balik ketekunannya, terbentang ironi besar: komoditas yang dijuluki rempah terbaik dunia ini menyimpan kerentanan ekonomi yang mendalam bagi para petaninya.

Jufri Fransicho Kasumbala