Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sekelompok yaki di Cagar Alam Tangkoko menghabiskan lebih dari separuh harinya untuk bergerak dan mencari makan. Sisanya dipakai untuk beristirahat dan bersosialisasi.
Yang mereka cari terutama buah. Dalam studi lapangan tentang perilaku dan pakan monyet hitam sulawesi (Macaca nigra), Timothy O’Brien dan Margaret Kinnaird mencatat lebih dari 145 jenis buah dalam menu makanan yaki di Tangkoko.
Dua per tiga waktu makan yaki dihabiskan untuk buah. Jenis buah dari suku Anacardiaceae dan Moraceae mendominasi, dan buah ara menjadi pilihan utama ketika sedang musim.
Penelitian itu berlangsung delapan belas bulan dengan cara mengikuti tiga kelompok yaki, masing-masing berisi lima puluh sampai sembilan puluh tujuh ekor. Hasil riset itu masih menjadi rujukan utama sampai hari ini.
Setiap buah yang ditelan seekor yaki berisi biji. Setiap biji yang ditelan ikut berpindah bersama satwa yang menelannya, lalu jatuh di tempat lain bersama kotorannya.
Seekor yaki, dengan kata lain, sedang menanam pohon sepanjang hari tanpa pernah berniat bertani. Pekerjaan itulah yang jarang masuk hitungan ketika orang membicarakan satwa langka. Sama halnya dengan yaki, satwa kunci Sulawesi Utara lainnya, yakni maleo, anoa, dan babirusa melakukan peran yang sama. Keempat satwa ini adalah mahkluk yang menjaga hutan Sulawesi agar tetap bisa memperbarui ekosistemnya sendiri.
Empat Pekerjaan yang Berbeda
Yaki bekerja sebagai penabur biji jarak jauh. Mereka secara berkelompok bergerak jauh setiap hari, sehingga biji yang ditelan di satu lembah bisa jatuh di lembah lain.
Jarak itu penting. Biji yang jatuh tepat di bawah induk pohon umumnya kalah bersaing dan lebih mudah mati, sehingga pohon bergantung pada satwa yang memindahkannya menjauh.
Tinjauan Yamato Tsuji dan Hsiu Hui Su pada 2018 menempatkan monyet jenis Macaca sebagai salah satu penyebar biji utama di hutan Asia. Yaki adalah wakil Sulawesi dari kelompok itu.

Ronny Adolof Buol 