Ringkasan
ZONAUTARA.com – GERIMIS TURUN tipis di kawasan hunian tetap (Huntap) relokasi pascabencana erupsi Gunung Ruang di Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Kamis 12 Maret 2026. Pagi terasa dingin. Angin dari laut sesekali menerpa deretan rumah baru yang berdiri rapi. Welsi Buangsamupihi, 53 tahun, tetap duduk di pinggir jalan. Ia ditemani Efni Mangoto (64) dan Anita Awumbas (34).
Mereka berbincang soal hidup yang berubah. Sudah sebulan mereka tinggal di Modisi setelah dipindahkan dari pengungsian di Kota Bitung. Bagi sebagian warga, kepindahan ini memang memberi kepastian tempat tinggal. Namun bagi kelompok rentan seperti perempuan dan lanjut usia (lansia), kehidupan di tempat baru justru menghadirkan kecemasan yang berbeda.
Perempuan-perempuan ini adalah penyintas erupsi Gunung Ruang. Mereka meninggalkan kampung halaman di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Tanah yang selama ini menjadi tempat mereka bertani, menangkap ikan, sekaligus membesarkan anak-anak tidak bisa lagi dihuni. Erupsi Gunung Ruang pada April 2024 telah menimbun seluruh kampung. Bangunan rumah dan infrastruktur kampung hancur. Nyaris tak ada lagi yang bisa mereka selamatkan. Pemerintah mengambil kebijakan untuk merelokasi seluruh penduduk dua kampung yang ada di Pulau Ruang.
Dua tahun berlalu, setelah masa pengungsian berakhir, kini semuanya berubah. Mereka mulai menempati Huntap. Namun situasi tetap darurat, meski bangunan rumah yang diberikan pemerintah tergolong layak. Itu karena kebutuhan dasar yang masih sangat sulit dipenuhi.

Neno Karlina Paputungan