Ringkasan
ZONAUTARA.com – Debu tipis berterbangan setiap kali kendaraan melintasi jalanan berkerikil di Desa Toraut Utara, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow. Di depan bangunan penggilingan padi Dewi Sri, Nyoman Kartini, seorang perempuan petani berumur 54 tahun, duduk mengawasi tumpukan karung padi yang belum digiling dan hamparan jemuran padi.
Sepintas, kesibukan penggilingan itu tampak berjalan seperti biasa, namun di baliknya tersimpan keprihatinan mendalam. Sejak awal Mei, pasokan air dari pintu air irigasi Toraut terus menyusut akibat curah hujan yang minim di hulu pegunungan.
Untuk bertahan hidup di tengah musim kering ini, Nyoman bersama suaminya yang telah lanjut usia, Komang Sudiase, terpaksa bekerja sebagai buruh harian penjemur padi milik orang lain.
“Kami hanya bekerja mengeringkan padi milik orang lain demi mendapatkan upah harian,” ujar Nyoman Kartini pelan, Kamis, 13 Agustus 2026.
Uang sewa mesin bajak tanah, pembelian benih, dan pupuk senilai belasan juta rupiah kini menjelma sebagai beban utang yang belum terbayar. Sebab tanaman padi di sawah mereka sendiri mengering sebelum sempat mengeluarkan bulir.
Nyoman dan Komang merupakan bagian dari ratusan keluarga transmigran asal Bali yang tiba pada tahun 1979. Mereka kini hidup sepenuhnya dari menggarap sawah tadah hujan serta lahan beririgasi teknis yang pasokan airnya kian tidak menentu.
Beberapa kilometer dari tempat penggilingan itu, Yusuf Liohu, peternak sapi berumur 65 tahun di dekat Bendung Toraut, menghadapi kesulitan serupa. Lapangan rumput di sekitar waduk pengairan itu kini berubah warna menjadi kecoklatan akibat terik matahari yang menyengat.

Ronny Adolof Buol