Ketika penghargaan belum menjawab krisis sampah Kotamobagu

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
๐Ÿ‘‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Sepuluh Piala Adipura telah menjadi bagian dari prestasi dan kebanggaan Kota Kotamobagu. Namun, di balik kilau penghargaan kebersihan bergengsi itu, sebuah kenyataan yang jauh berbeda sedang menunggu meledak: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Poyowa Kecil hanya menyisakan sekitar satu hektare lahan, atau sekitar 36 persen dari total 2,8 hektare.

Sementara kota ini terus menghasilkan 60 hingga 80 ton sampah setiap harinya. Ini bukan prestasi yang sedang dirayakan. Ini adalah bom waktu.

Data lapangan yang dikumpulkan tim Zonautara.com selama sebulan mengungkap dimensi krisis yang melampaui sekadar urusan tumpukan sampah.

Sungai Moayat yang airnya mengalir melewati permukiman warga mencatat kadar Fecal Coliform sebesar 160.000 MPN/100mL, atau 160 kali lipat di atas ambang batas aman. Di Sungai Dayanan, pencemaran organik terbaca jelas dari data BOD yang terus meningkat dari hulu ke hilir: 4 mg/L, 6 mg/L, hingga 8 mg/L.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik lingkungan tapi cerminan dari sistem pengelolaan sampah yang telah lama menanggung beban tanpa solusi struktural.




Baca artikel lengkap Ketika penghargaan belum menjawab krisis sampah Kotamobagu di Teras.id

๐Ÿ‘‘ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/infografik/zonautara-com/rubrik/perspektif/ketika-penghargaan-belum-menjawab-krisis-sampah-kotamobagu-2271180

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com