Ketika rerata menutupi krisis: Potret ketimpangan iklim Sulawesi Utara

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
๐Ÿ‘‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – ARWANI BALAU, 50 tahun membagi air menurut kebutuhan yang paling sulit ditunda. Ibu rumah tangga di Desa Kawahang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), itu menyiasati air yang dibeli suaminya seharga Rp 7.000 per galon 25 liter dari mobil tangki.

Air berharga mahal itu hanya dialokasikan untuk memasak, toilet, dan minum babi ternaknya. Untuk mandi dan mencuci, keluarganya terpaksa menuruni lereng curam berbatu menuju pantai, berbilas dengan air laut asin. Bagi anak mereka yang bersiap sekolah, Arwani menjatah lima liter air bersih untuk mandi.

“Mandi di laut adalah cara kami bertahan. Air tawar terlalu mahal untuk dibuang,” kata Arwani, pertengahan Agustus 2026.

Di pesisir Wangurer Barat, Kota Bitung, Martini Munduk, 40 tahun, memandangi gelombang tinggi yang menggulung di laut. Suaminya, Alan (41), sudah berhari-hari berlindung di pulau-pulau kecil karena tidak bisa melaut menggunakan kapal penangkap tuna KM Yemima akibat badai angin selatan. Di dapur mereka, persediaan beras menipis. Guna bertahan hidup, Martini terpaksa melangkah ke rumah pemilik kapal (bos), menumpuk utang baru untuk membeli beras.

“Kalau cuaca buruk seperti ini, kami bergantung kepada bos harian. Nanti kalau suami ada rezeki dari hasil tangkapan tuna, langsung dipotong,” kata Martini, Jumat, 14 Agustus 2026.

Di persawahan tadah hujan Desa Babo, Kecamatan Sangtombolang, Bolaang Mongondow (Bolmong), Putih Hati Paropo, 54 tahun, menunjuk retakan tanah sawahnya yang mengering selebar dua jari. Modal jutaan rupiah yang dikeluarkan untuk membajak lahan dan membeli benih padi pada Juli 2026 lenyap tak bersisa.

Benih yang baru ditanam hangus terpanggang matahari sebelum menghijau. Demi menyambung hidup, perempuan kepala keluarga ini memutar haluan, mengubah sawahnya yang mengering menjadi kebun semangka darurat. Di bawah terik menyengat, ia mengangkat ember air dari sumur yang baru saja digali dengan tambahan pengeluaran.

Sementara itu, di pesisir Desa Ilomata, Kecamatan Pinolosian, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Japar, yang berusia 83 tahun, mengingat masa mudanya beberapa dekade lalu, saat ikan tuna masih bisa dipancing hanya dengan mendayung perahu beberapa ratus meter dari bibir pantai.

Kini, ia menyaksikan anak dan menantunya menggunakan perahu bermesin besar, menjangkau lokasi tangkap yang bergeser hingga 70 mil ke tengah laut akibat kenaikan suhu permukaan laut.

Kisah-kisah masyarakat di tingkat tapak ini memperlihatkan bahwa krisis iklim di Sulawesi Utara tidak jatuh di ruang kosong. Krisis iklim ini bertemu dengan kerentanan sosial-ekonomi yang sudah ada: kemiskinan struktural, layanan dasar yang belum merata, dan minimnya jaring pengaman sosial. Kelompok rentan menanggung dampak paling berat meskipun mereka adalah kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap emisi global.

Baca artikel lengkap Ketika rerata menutupi krisis: Potret ketimpangan iklim Sulawesi Utara di Teras.id

๐Ÿ‘‘ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/ketika-rerata-menutupi-krisis-potret-ketimpangan-iklim-sulawesi-utara-2283426

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com