Ketika risiko laut berlabuh di rumah nelayan tuna di Bitung

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
๐Ÿ‘‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Di Dermaga T Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung di Kelurahan Aertembaga Satu, Kombang Akuba, 39 tahun, tampak membungkuk di atas dek KM Barokah 27. Tangan kanannya yang kasar cekatan membersihkan busi mesin ketinting, sesekali meniup ujungnya untuk memastikan sisa pembakaran hilang.

Di sebelah Kombang, Kudi Husain, 55 tahun, nelayan penangkap tuna senior yang telah melaut selama tiga dekade, sibuk menampung air tawar ke dalam tiga bak khusus, bekal mutlak untuk bertahan selama 12 hingga 14 hari di tengah laut lepas.

KM Barokah 27 adalah kapal fiber berukuran 12 Gross Tonnage (GT) yang mengoperasikan alat tangkap pole and line atau huhate. Bersama dua rekan lainnya, mereka bersiap melakukan perjalanan melaut (trip) di seputaran wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Sulawesi Utara.

Namun, bagi Kombang dan Kudi, keputusan untuk melepas tali tambat kapal hari itu tidak pernah murni bersandar pada kalkulasi kalender tradisional. Angin selatan yang bertiup kencang setiap hari di bulan Agustus memicu gelombang tinggi yang mengintai keselamatan mereka di laut bebas.

“Kalau cuaca sedang buruk, kami tidak mau ambil risiko. Kami terpaksa berlindung di pulau-pulau kecil terdekat,” ujar Kombang.

Risiko itu bukan sekadar hilangnya hari melaut, melainkan tagihan utang yang kian membengkak. Sekali melaut, pemilik kapal (bos) membekali mereka dengan modal panjar sekitar Rp 25 juta untuk operasional BBM, makanan, dan balok es. Jika tangkapan tuna nihil akibat cuaca buruk, sisa modal panjar itu tidak diputihkan, melainkan dikonversi menjadi utang pribadi awak kapal yang akan dipotong pada trip berikutnya.

“Kalau minus, itu otomatis jadi utang. Kami terpaksa meminjam lagi untuk kebutuhan dapur keluarga di rumah,” ucap Kombang.

Himpitan ekonomi harian juga dirasakan warga di pesisir Pantai Wangurer Barat. Martini Mundok, 40 tahun menatap cemas ke arah laut yang sedang surut. Suaminya, Alan, 41 tahun, adalah seorang nelayan tuna yang bekerja di KM Yemima. Sejak akhir Juni hingga pertengahan Agustus 2026, badai angin selatan dan ombak raksasa menahan Alan untuk berlindung. Di darat, Martini memutar otak untuk memberi makan anak-anaknya.

โ€œKehidupan kami harian bergantung pada uang panjar dari bos. Kalau tidak ada beras atau jajan untuk anak, kami pinjam ke bos. Nanti kalau suami ada hasil tangkapan, langsung dipotong. Tambah utang, hanya itu pelarian kami saat musim paceklik,โ€ kata Martini.

Dampak rantai ini merayap hingga ke daratan melalui roda sepeda motor Honda Beat milik Jomli Unsong, 52 tahun, seorang pedagang ikan keliling (tibo-tibo) asal Sagerat Weru Dua. Di kompleks pelelangan, Jomli terpekur melihat sekeranjang ikan cakalang yang dihargai Rp 750 ribu, melompat tinggi dari harga normal akibat minimnya pasokan kapal yang mendarat. Dua ember 20 liter di motornya hanya terisi sedikit ikan tude dan malalugis yang ia beli seharga Rp 430 ribu, belum termasuk es batu Rp20 ribu.

“Modal kami ini pas-pasan. Kalau harga ikan terlalu mahal, pembeli beralih membeli telur ayam ras yang harganya Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per baki,” ucap Jomli. Bagi dia, tibo-tibo gurem, krisis pasokan ikan di laut adalah alamat kerugian modal harian yang nyata.

Baca artikel lengkap Ketika risiko laut berlabuh di rumah nelayan tuna di Bitung di Teras.id

๐Ÿ‘‘ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/ketika-risiko-laut-berlabuh-di-rumah-nelayan-tuna-di-bitung-2283643

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com