Ringkasan
ZONAUTARA.com – Di bawah terik matahari pesisir Desa Ilomata, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), jari-jemari keriput Opa Japar yang telah menginjak usia 83 tahun itu masih bisa bergerak lincah bergelut dengan peralatan melaut.
Di jalan setapak yang berjarak sepelemparan batu dari garis pantai Teluk Tomini, ia sedang merajut kembali mata-mata jaring pukat (soma) yang robek. Baginya, anyaman benang khusus ini bukan sekadar alat kerja, melainkan lembaran sejarah yang merekam bagaimana laut di hadapannya telah berubah secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.
Kepada Zonautara.com yang mendatangi pesisir Bolsel pada Senin, 17 Agustus 2026, Japar bercerita bagaimana dia bekerja sebagai nelayan saat masih muda. Kala melaut, mereka cukup menggunakan perahu layar dengan dayung. Tidak perlu mesin. Ikan tuna dan cakalang melimpah tepat di depan kampung.
“Bahkan tiang rumah kami masih kelihatan jelas dari laut. Tapi sekarang? Laut kosong. Kampung sudah ta ilang-ilang (hilang dari pandangan) baru kami bisa dapat ikan,” kata Japar.
Di samping Opa Japar, iparnya, Faisal Pongoliu, 47 tahun, mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan kerabatnya itu. Sebagai nelayan aktif yang menahkodai perahu dengan bentangan jaring sepanjang 100 meter dan mempekerjakan 10 anak buah kapal, Faisal merasakan betul bagaimana ongkos melaut melambung tinggi karena ikan kian menjauh.
Angin kencang yang bertiup dari selatan kini terasa semakin kering, semakin kencang, dan berlangsung hingga enam bulan tanpa jeda sepanjang tahun 2026 ini. Faisal terpaksa turun melaut di tengah embusan angin selatan yang berisiko tinggi. Rompon (alat bantu berupa rakit pengumpul ikan) sekarang harus dilepas sejauh 70 mil laut dari garis pantai, hampir mendekati wilayah perairan Maluku Utara.
“Sekali jalan, kami harus patungan modal harian yang sangat besar, sementara hasil tangkapan tidak pernah pasti. Sering kali dari 25 orang yang berangkat bersama-sama, hanya sekitar 10 orang yang sanggup bertahan melaut dengan sistem bagi hasil yang kian menipis,” kata Faisal.
Di tingkat psikososial, ketidakpastian alamiah ini melahirkan beban mental yang berat bagi para nelayan tradisional. Kondisi tertekan dan cemas yang mereka rasakan saat melihat badai selatan bukanlah hal sepele, melainkan sebuah pola patologis lingkungan.

Ronny Adolof Buol