Ringkasan
ZONAUTARA.com – Pukul 13.30 WITA, matahari masih menggantung condong ke barat. Teriknya menyengat, tapi bayang-bayang mulai memanjang di sela-sela batang jagung. Di sebuah lahan di Werdhi Agung Timur, seorang lelaki tua berdiri sambil menenteng arit. Di tangannya yang lain, sebatang rokok baru saja menyala.
Namanya Nyoman Pasek, 61 tahun. Ia petani. Atau, lebih tepatnya, dulu petani sawah. “Saya punya lahan sekitar tiga hektar. Sekarang sudah beralih ke palawija, terutama jagung,” ujarnya saat ditemui Kamis, 16 April 2026.
Ia tidak sedang membuat keputusan emosional. Yang ia lakukan adalah menghitung. “Karena tidak mampu air. Sudah sekitar lima tahun terakhir. Semua mengeluhkan soal air. Jadi palawija saja, yang penting menghasilkan uang,” katanya.
Di titik ini, narasi umum tentang petani sering keliru. Petani kerap digambarkan sebagai pihak yang tidak konsisten, tidak sabar, atau sekadar ikut-ikutan tren komoditas. Tapi, di hadapan Nyoman, anggapan itu runtuh. Ia bukan spekulan. Ia terlihat seperti seorang ekonom lapangan. Dan seperti ekonom mana pun, ia memilih opsi terbaik dari pilihan yang tersedia.
Kalkulasi yang Jernih
Nyoman pernah berada di masa ketika air masih cukup. Sawahnya produktif. “Dulu, waktu air masih normal, saya bisa dapat 100 karung gabah per hektar. Kalau tiga hektar, berarti dapat 300 karung,” ujarnya.
Ia berhenti sejenak, mengisap rokoknya. “Tapi memang anggarannya besar.”
Biaya itulah yang menjadi kunci. Bertani padi bukan sekadar menanam dan menunggu panen. Ini adalah sistem produksi dengan banyak komponen biaya: olah tanah, benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, hingga panen. Ketika air mulai langka, semua risiko itu meningkat berlipat.

Marshal Datundugon 