Maleo yang belajar menghindari manusia

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
๐Ÿ‘‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Tim Zonautara.com menaiki menara pengamatan itu pada dini hari, ketika matahari belum terbit. Ruangan dari papan berukuran sekitar empat meter persegi itu didirikan di atas tiang kayu setinggi sekitar 10 meter. Dibuat sebagai tempat untuk mengintai maleo, agar tidak mengganggu saat satwa liar itu datang bertelur.

Bagi peneliti satwa liar, berdiam berjam-jam di ruang sesempit itu adalah pekerjaan sehari-hari. Namun bagi tim yang bukan peneliti, tiga jam pertama terasa panjang. Lalu sepasang maleo muncul dari balik semak. Keduanya berhenti sejenak, mengamati sekeliling. Yang jantan mulai menggali pasir, sementara yang betina berjaga, kepalanya terus bergerak mengamati situasi sekitar. Tim Zonautara.com memotret dari balik dinding menara sambil menahan suara.

Belum lama berselang, sebuah perahu nelayan melintas di depan pantai. Sepasang maleo itu berhenti menggali, lalu terbang menghilang.

Pantai Binerean di Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Bolaang Mongondow Selatan, adalah salah satu lokasi peneluran maleo yang tersisa. Burung endemik Sulawesi ini hanya bertelur di tanah dengan suhu tertentu, karena tidak mengerami telurnya sendiri dan menyerahkan proses itu kepada alam.

Apa yang tim Zonautara.com saksikan pagi itu persis seperti yang dicatat para peneliti. Dalam penelitian tentang perilaku bertelur maleo di Binerean yang terbit di Jurnal Silvarum pada 2025, Yustus Baussa, Hard N. Pollo, dan Caroline Tasirin mencatat pola yang sama. Maleo datang berpasangan, satu menggali sementara yang lain mengawasi, dan keduanya berhenti begitu merasakan gangguan.




Kewaspadaan itu punya konsekuensi. Penjaga maleo di Binerean, Hanafi, menuturkan bahwa bila ada perahu lewat atau orang memancing di dekat pantai, indukan maleo akan menunda bertelur sampai sore.

Keunikan biologis maleo ini justru menjadi kelemahannya. Telurnya dikubur di pasir pantai yang dipanaskan matahari atau di tanah dekat sumber panas bumi, lalu ditinggalkan begitu saja. Ukurannya sekitar lima kali telur ayam, cukup besar untuk menghasilkan anak yang langsung mandiri, sudah bisa terbang dan mencari makan sendiri begitu berhasil menggali diri ke permukaan.

Karena maleo bertelur beramai-ramai di lokasi yang sama dan terbuka dari tahun ke tahun, tempat peneluran menjadi sasaran empuk, baik bagi pengambil telur maupun bagi anjing dan biawak. Sepasang maleo biasanya kembali ke lokasi yang sama setiap tiga sampai empat minggu.

Baca artikel lengkap Maleo yang belajar menghindari manusia di Teras.id

๐Ÿ‘‘ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/maleo-yang-belajar-menghindari-manusia-2278516?

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com