Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sebelum kapal pemburu tuna bertolak meninggalkan dermaga Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, seorang nakhoda tradisional akan membuka ponsel pintarnya untuk memeriksa pesan di grup percakapan. Dari situ, dia mengecek informasi terbaru soal cuaca.
Di layar gawai tersebut, ia membaca pembaruan informasi cuaca maritim yang dikirimkan oleh penyuluh perikanan setempat. Bagi nelayan kecil dengan armada di bawah sepuluh gros ton, deretan angka tinggi gelombang dan arah angin bukan sekadar obrolan pengisi waktu luang.
Informasi digital tersebut merupakan penentu utama di balik keputusan mereka untuk melaut. Apakah mereka harus berangkat bertaruh nyawa di tengah laut, atau memilih menunda pelayaran dengan konsekuensi tidak membawa pulang uang belanja dapur.
Sistem informasi digital interaktif bernama Indonesian Weather Information for Shipping yang disediakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sebenarnya telah memetakan prakiraan cuaca maritim hingga lokasi berkumpulnya ikan. Namun, jangkauan operasional aplikasi canggih ini belum sepenuhnya ramah bagi perahu tradisional berukuran kecil seperti pakura dan ketinting yang mendominasi armada nelayan lokal Sulawesi Utara.
Di sinilah letak persoalan mendasar dari upaya pertahanan menghadapi krisis lingkungan global saat ini. Masalah utama daerah bukan terletak pada ketiadaan program, teknologi, atau dokumen kebijakan. Masalah itu ada pada jurang pemisah yang lebar antara rencana strategis di atas meja birokrasi dengan kapasitas warga paling rentan di tingkat tapak.

Ronny Adolof Buol