Ringkasan
ZONAUTARA.com – Deru mesin blower dan pemecah batu (crusher) di kawasan perkebunan Lingkobungon, Desa Tanoyan Selatan, telah menjadi pemandangan biasa dan bagian keseharian warga di salah satu desa di Kabupaten Bolaang Mongondow itu. Di bawah terpal-terpal biru yang tersebar di lereng bukit, lumpur bercampur dengan keringat, merkuri, dan sianida. Namun, jika Anda melihat lebih dekat, yang mengalir itu bukan sekadar air limbah, melainkan perputaran uang yang tidak pernah tercatat dalam kas daerah.
Pertambangan emas tradisional di Tanoyan Selatan tidak bisa dilihat sekadar urusan orang miskin yang mengais rezeki. Ini adalah sebuah ekosistem ekonomi yang terorganisir, bernilai miliaran rupiah per hari, dan menghidupi ribuan orang, mulai dari pemodal besar, pekerja lubang, ojek material, hingga ibu-ibu penjual nasi kuning.
Tim Zonautara.com mencoba menghitung perputaran uang di balik tambang rakyat Tanoyan Selatan dari hasil peliputan di lapangan yang dilakukan sepanjang April dan Mei 2026. Dari mana modal berasal, ke mana emas mengalir, siapa yang paling diuntungkan, dan mengapa kekayaan miliaran ini seolah menjadi ilusi yang tidak pernah benar-benar mengentaskan kemiskinan struktural.
Angka Fantastis di Atas Lahan Kritis
Untuk memahami skala ekonomi tambang rakyat di Tanoyan Selatan, kita harus melepaskan kacamata birokrasi yang memandangnya sekadar sebagai Pertambangan Tanpa Izin (PETI). Di mata para pelaku lokal, kawasan ini adalah “Wall Street” pedesaan.
Wakil Ketua DPRD Bolaang Mongondow, Febrianto Tangahu, membuka tabir angka yang mengejutkan. “Di Tanoyan Selatan itu, kalau saya tidak salah, ada lebih dari Rp 1 miliar perputaran uang per hari,” kata Febrianto, Jumat, 15 Mei 2026. Ia berani mengklaim bahwa aliran uang tunai yang masif dari tambang inilah yang menjadi katup penyelamat ekonomi daerah saat dihantam krisis.

Ronny Adolof Buol 