Menambang kisah dari perut bumi

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap.
๐Ÿ”“ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Pukul delapan pagi, Roy Mokoagow sudah berdiri di mulut lubang. Pria 41 tahun ini telah menghabiskan separuh hidupnya sebagai penambang emas di Ratatotok, Toraut, Potolo, Mopuya, Molotabu, kini di Lingkubungon, Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow. Ia lebih akrab dengan lubang-lubang itu ketimbang kamarnya.

Ia menunggu blower menyedot udara busuk dari kedalaman, agar racun yang mereka sebut “angin mati” keluar sebelum enam orang kongsinya turun. Tidak ada helm. Tidak ada rompi pelindung. Hanya lampu kepala, linggis, dan pengalaman yang telah mengajarinya membedakan bau oksigen dari bau kematian. Bismillah, ia mengucap, lalu turun.

Di Tanoyan Selatan, desa kecil yang berdiri di atas kantong-kantong emas di Sulawesi Utara, setidaknya sembilan lokasi tambang aktif tersebar di areal yang diperkirakan mencapai 2.000 hektar. Ratusan lubang telah digali ke perut bumi, sebagian sudah menembus 150 meter ke bawah permukaan tanah, gelap dan sempit seperti esofagus raksasa.

Pada Minggu, 3 Mei 2026, Zonautara.com menyaksikan langsung bagaimana puluhan penambang bekerja di dalam lubang-lubang itu. Semuanya tanpa dilengkapi peralatan sesuai standar legal. Sebabnya karena hingga kini aktivitas penambangan di area itu belum berijin sehingga abai dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.

Hanya sebagian kecil dari wilayah pertambangan ini yang memiliki izin, yakni areal Koperasi Produsen Perintis yang luasnya sekitar 100 hektar. Sisanya? Zona abu-abu yang oleh hukum disebut PETI: Pertambangan Emas Tanpa Izin.




Baca artikel lengkap Menambang kisah dari perut bumi di Teras.id

๐Ÿ”“ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/menambang-kisah-dari-perut-bumi-2135462

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com