Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sebelum Tim Zonautara mendatangi sawah-sawah dan bertemu petani di ladang nilam dan kebun jagung di Dumoga, ada data pertanian daerah tersebut yang sudah berbicara. Angka-angka itu bukan dari laporan Dinas Pertanian atau presentasi Bupati, melainkan datang dari orbit satelit Landsat yang selama tiga dekade secara rutin memotret permukaan bumi dengan resolusi 30 meter per piksel. Cara kerjanya tanpa mempedulikan batas administrasi, kepentingan anggaran, serta kebutuhan untuk membuat laporan terlihat bagus.
Data yang kami analisis berasal dari MapBiomas Indonesia, sebuah platform pemetaan tutupan lahan tahunan yang dikembangkan oleh jaringan masyarakat sipil Indonesia yang dipimpin Auriga Nusantara. Tulisan ini menjelaskan secara terbuka: bagaimana data itu bekerja, bagaimana kami menggunakannya, apa yang kami temukan, dan yang sama pentingnya, apa yang tidak bisa dilihat dari satelit dan mengapa kami tetap harus turun ke lapangan.
Transparansi metodologi adalah bagian dari tanggung jawab jurnalisme data. Kami sajikan semuanya, agar pembaca dan narasumber bisa memeriksa sendiri.
MapBiomas lahir di Brasil pada 2015, dari sebuah pertanyaan yang sederhana: bagaimana caranya memantau perubahan tutupan lahan di seluruh negara seluas benua secara sistematis, tahunan, dan dengan sumber daya yang terbatas? Jawabannya adalah dengan menggabungkan data satelit gratis, komputasi awan lewat Google Earth Engine, dan kecerdasan kolektif jaringan ahli lokal. Hasilnya dipublikasikan dan diuji secara ilmiah.

Ronny Adolof Buol