Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sepasang maleo bisa berjalan puluhan kilometer hanya untuk sampai ke satu petak pasir yang hangat. Satwa endemik Sulawesi ini tidak terbang jauh. Mereka berjalan, menembus hutan, menyeberangi kebun, melewati jalan raya.
Setibanya di tujuan, keduanya menggali lubang selama berjam-jam hingga dalamnya bisa mencapai satu meter. Si betina lalu menaruh satu butir telur yang besarnya enam kali telur ayam itu ke dalam. Lalu keduanya menimbun lubang itu, merapikan pasirnya, dan pergi. Setelah itu, mereka tidak akan kembali lagi.
Enam puluh sampai sembilan puluh hari kemudian, seekor anak maleo menetas di bawah tanah. Anak maleo itu menggali ke permukaan sendirian, beristirahat sebentar, lalu terbang ke dalam hutan, sudah berbulu lengkap dan bisa terbang sejak menit pertama hidupnya. Tidak ada induk yang menunggu. Tidak pernah ada.
Siklus hidup ini bekerja selama ribuan tahun. Sistem ini bekerja karena selalu ada cukup banyak telur di satu tempat sehingga pemangsa akan kenyang sebelum semuanya habis. Biawak kenyang. Burung pemangsa kenyang. Yang tidak diperhitungkan oleh evolusi adalah pemangsa yang tidak pernah kenyang.
Salah satu survei yang pernah dilakukan atas burung ini terbit tahun 2025 di jurnal Ornithological Applications dengan judul Massive declines and local recoveries: First range-wide assessment spotlights ending egg-taking as key to the survival of Macrocephalon maleo (Maleo). Tim peneliti, di antaranya Johny S. Tasirin dari Universitas Sam Ratulangi, menyisir 51 kabupaten di Sulawesi, mengunjungi 180 lokasi peneluran, dan mewawancarai 209 warga yang mengenal maleo di kampung masing-masing. Banyak di antara mereka adalah penggali telur, dulu dan sekarang.
Riset ini memeriksa lokasi peneluran. Hasilnya, dari 210 lokasi peneluran yang masih aktif pada 1980, tersisa 94 pada 2019. Seratus enam belas tempat berhenti didatangi maleo dalam tiga puluh sembilan tahun. Rata-rata tiga lokasi hilang setiap tahun.

Ronny Adolof Buol 