Ringkasan
ZONAUTARA.com – Langit Kota Kotamobagu masih gelap ketika Salman Paputungan mulai beraktivitas. Bahkan belum menunjukkan pukul empat pagi. Di sebagian besar rumah, orang-orang masih terlelap. Lampu teras masih menyala. Jalanan masih lengang. Namun bagi Salman, hari sudah dimulai.
Sejak akhir 2009, lelaki 51 tahun itu menjalani rutinitas yang hampir tak pernah berubah. Ketika sebagian warga baru mulai beraktivitas, ia sudah lebih dulu bekerja memastikan sampah yang ditinggalkan warga kota semalam akan berpindah dari sudut-sudut permukiman menuju tempat pembuangan. Belasan tahun bekerja sebagai petugas kebersihan membuat dia hafal satu hal: sampah tidak pernah menunggu.ย
“Kalau soal kami pekerja, kami selalu siap kerja,” katanya saat ditemui di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Poyowa Kecil, Senin, 1 Juni 2026.
Selama bekerja, Salman menyaksikan Kotamobagu tumbuh dari tahun ke tahun. Ia melihat jalan-jalan baru dibangun, kawasan permukiman bertambah, dan kota berulang kali meraih penghargaan Adipura. Pada 2017, ia bahkan menjadi salah satu petugas yang berangkat ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut.
Selama satu dekade terakhir Kotamobagu telah mengoleksi sepuluh Piala Adipura. Namun bagi Salman, penghargaan itu tidak mengubah satu kenyataan, bahwa sampah tetap harus diangkut setiap hari.

Ronny Adolof Buol 