Ringkasan
ZONAUTARA.com – Senin pagi itu, 1 Juni 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WITA ketika matahari mulai meninggi di atas hamparan sampah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Poyowa Kecil, Kecamatan Kotamobagu Selatan, Kota Kotamobagu.
Langit cerah. Sinar matahari pagi terasa hangat dan sejuk. Namun, suasana terasa kontras begitu memasuki kawasan pembuangan sampah akhir yang merupakan satu-satunya di Kota Kotamobagu. Aroma menyengat menguar dari kubangan sampah yang menggunung. Jutaan lalat beterbangan, mengerumuni berbagai jenis limbah yang tercampur menjadi satu.
Sampah rumah tangga, plastik, kardus, sisa makanan, hingga berbagai barang bekas menumpuk tanpa sekat. Dari kejauhan, alat berat ekskavator tampak sibuk menarik dan mengangkut sampah, dipindah ke bagian tanggul penahan. Para petugas TPA hilir mudik menjalankan tugasnya, truk sampah lalu lalang bergantian melepas beban angkutnya.ย
Sementara di sela-sela tumpukan sampah itu, sejumlah pemulung dengan tenang memilah barang-barang yang masih memiliki nilai ekonomi. Pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin menjijikkan, justru menjadi sumber penghidupan bagi mereka.
Secara kasat mata tumpukan sampah di TPA Poyowa Kecil bahkan terlihat sudah meluber melewati tanggul penahan. Kondisi tersebut memberi kesan tempat pembuangan tersebut sudah tak mampu lagi menampung.
Meski bau busuk terus menguar, warga belum merasakan dampaknya karena lokasi TPA berada cukup jauh dari permukiman. Kawasan itu hanya dikelilingi hamparan perkebunan milik masyarakat.

David Sumilat 