Pala Siau terbaik dunia, tapi belum mampu sejahterakan petani

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
👑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Di bawah bayang-bayang Gunung Karangetang yang tak pernah tidur, Ridelson Damar, 64 tahun, memanjat pohon pala setinggi sepuluh meter dengan hanya bermodalkan sebatang bambu pengait. Di Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara, ia bertaruh nyawa demi memetik buah yang oleh dunia barat dijuluki The King of Spices.

Setelah berjam-jam di atas pohon, hasil yang didapat Ridelson tidaklah sebanding dengan risiko yang dihadapinya. Di pasar lokal di Pulau Siau, biji pala kering grade A, kualitas terbaik hanya dihargai Rp 68.000 per kilogram pada awal 2026. Angka ini jauh dari kata “sejahtera” jika dibandingkan dengan biaya operasional dan risiko kerja.

“Ini kami seperti dipermainkan. Masa katanya pala ini terbaik di dunia, tapi harganya tidak terbaik?” ucap Ridelson dengan nada getir saat ditemui di kebunnya, Jumat 16 Januari 2026.

Keluhan Ridelson adalah cerminan dari paradoks besar yang menyelimuti Pulau Siau. Pulau ini adalah rumah bagi pala (Myristica Fragrans) dengan kualitas aromatik terbaik di muka bumi, yang menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar global. Namun, di balik dominasi global tersebut, tersimpan realitas pahit: petani Siau terperangkap dalam kemiskinan struktural, menjadi mata rantai terlemah dalam tata niaga yang dikuasai segelintir elite.

Baca artikel lengkap Pala Siau terbaik dunia, tapi belum mampu sejahterakan petani di Teras.id

👑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/pala-siau-terbaik-dunia-tapi-belum-mampu-sejahterakan-petani-2114697

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com