Ringkasan
ZONAUTARA.com – UJAN TURUN cukup deras di kawasan Desa Modisi pada Rabu malam, 11 Maret 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 20.30. Angin sesekali berhembus kencang, menerpa deretan rumah baru yang berdiri rapi di kawasan hunian tetap (huntap) relokasi pasca-bencana erupsi Gunung Ruang yang dibangun pemerintah di desa itu.
Di teras rumah blok J nomor 11, Nixon Yatahi, 54 tahun, duduk santai bersama istrinya. Rumah itu baru sekitar sebulan mereka tempati setelah direlokasi dari kampung halaman mereka di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Lampu teras menyala temaram. Di hadapan mereka hanya hamparan jalan kompleks huntap yang basah oleh hujan.
Nixon berasal dari Kampung Pumpente, salah satu desa di pulau kecil tempat Gunung Ruang berada. Letusan dahsyat gunung api itu pada April 2024 memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan kehidupan yang selama puluhan tahun mereka bangun di pulau tersebut.
Kini Nixon tinggal berdua dengan istrinya. Kedua anaknya sudah menikah dan tinggal terpisah, meski masih di kawasan huntap yang sama. Namun kehidupan baru di tempat relokasi ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.
“Perahu memang sudah ada, mesin juga ada. Tapi sampai sekarang saya belum pernah pakai melaut,” kata Nixon pelan.
Sebagai nelayan sejak muda, laut sebenarnya bukan sesuatu yang asing baginya. Pemerintah bahkan telah memberikan bantuan satu unit perahu lengkap dengan mesin tempel bertenaga 15 PK untuk para nelayan korban erupsi. Bantuan itu diberikan sewaktu mereka masih berada di lokasi pengungsian. Tetapi bagi Nixon, perahu saja belum cukup.
“Sekarang saya masih kerja sebagai buruh harian di proyek pembuatan drainase di desa seberang. Cari modal dulu,” ujarnya.

Marshal Datundugon 