Ringkasan
ZONAUTARA.com – Sore mulai melandai di Desa Babo, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sabtu, 15 Agustus 2026. Di bawah tudung caping (tolu) bambu yang mulai kusam, Putih Hati Paropo, 54 tahun, membungkuk meraba tanah persawahannya yang kini menjelma daratan kering dengan retakan-retakan sedalam dua jari orang dewasa.
Lahan sawah tadah hujan seluas 1,5 hektare miliknya, yang biasanya bergoyang rimbun oleh bulir padi hijau, kini sunyi. Benih padi yang ia tebar dengan penuh harap pada awal Mei 2026 menguning, lalu hangus terbakar terik matahari sebelum sempat meninggi.
“Kami sudah membuang modal jutaan rupiah untuk bajak lahan dan membeli benih, tetapi air hujan tidak pernah datang lagi sejak akhir April. Sekarang sawah ini mati puso,” kata Putih.
Sebagai orang tua tunggal yang harus menopang hidup empat anaknya, termasuk biaya kuliah anak sulungnya di IAIN Manado, Putih Hati tidak mau menyerah. Lahan persawahan yang kering itu ia ubah dadakan menjadi ladang semangka, sebuah ikhtiar untuk menyambung napas dapur di tengah krisis air.
Tak jauh dari lahan Putih Hati, hanya berjarak beberapa petak, tampak Hasan Tungkagi, 52 tahun berdiri menatap empat hektare sawah garapannya yang juga mengalami puso. Sebagai Ketua Kelompok Tani di Desa Babo, Hasan memimpin sekitar 20 petani gurem yang setiap hari menghadapi keputusasaan serupa. Modal lebih dari Rp 20 juta yang ia kumpulkan dari pinjaman tengkulak menguap bersama kemarau parah yang melanda.
“Uang itu habis untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) guna menghidupkan mesin pompa air (alkon). Kami terus memompa air dari parit darurat, tetapi air tanah menyusut cepat. Padi kami mati, dan modal kami semakin besar,” ujar Hasan.

Ronny Adolof Buol