Ringkasan
ZONAUTARA.com – Seekor anoa yang diberi nama Maesa lahir pada 7 Februari 2017. Maesa adalah anak anoa pertama yang lahir di Anoa Breeding Centre, penangkaran anoa satu-satunya di Indonesia. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari Manado.
Setelah Maesa, lahir Anara pada November 2017, lalu Deandra pada Juli 2018. Sesudah itu selama empat setengah tahun, tidak ada bayi anoa di penangkaran. Setelah jeda lama, lahir anoa yang kemudian diberi nama Raden pada Januari 2023, lalu Bahen lahir selang enam bulan kemudian. Sesudah Bahen, tidak ada lagi kelahiran sampai saat ini.
Yang tercatat justru sebuah keguguran pada 21 Desember 2024, ketika usia kandungan induknya sudah lima bulan. Dokter hewan di penangkaran itu, drh. Dahlia Cristiani Sitanggang, memastikan hal tersebut dalam jawaban tertulis kepada tim Zonautara.com pada Jumat, 24 Juli 2026.
Sampai Juli 2026, jumlah anoa di sana tetap sebelas ekor. Rinciannya sembilan anoa dataran rendah dan dua anoa pegunungan. Dari sembilan anoa dataran rendah itu, lima jantan dan empat betina. Dua anoa pegunungan yang tersisa keduanya betina.
Deretan nama-nama yang diberikan kepada Anoa tadi adalah pencapaian teknis yang tidak mudah. Namun jeda panjang di tengahnya menyimpan persoalan yang tidak bisa ditutupi. Persoalannya adalah penangkaran itu tidak dirancang dan tidak akan sanggup menjadi jaring pengaman bagi anoa liar yang tersebar dan menyusut di hutan Sulawesi.
Upaya kecil mengawinkan anoa
Anoa Breeding Centre diresmikan pada 5 Februari 2015 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat itu, Siti Nurbaya Bakar. Pengelolaannya kini berada di tangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, setelah di bawah lembaga penelitian dan penerapan standar lingkungan. Biayanya berasal dari anggaran negara melalui BKSDA Sulawesi Utara, ditambah dukungan program dari berbagai mitra.
Tugas penangkaran ini berat karena sifat satwa yang dirawatnya. Anoa (Bubalus spp.) adalah kerbau terkecil di dunia, hidup menyendiri, dan mudah agresif. Menyatukan sepasang anoa pada waktu yang salah bisa berujung perkelahian, bukan perkawinan. Risikonya bisa berakibat fatal.

Ronny Adolof Buol 