Sulawesi Utara: Tagihan iklim bagi warga rentan

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap.
🔓 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Hendra Kuera, 44 tahun, berjalan lambat menyusuri jalan setapak berbatu yang curam di kampung yang terletak di lereng Gunung Api Karangetang, Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), saat ditemui pada medio Agustus 2026. Ia memikul dua galon air bersih masing-masing berisi 25 liter, yang dicantolkan pada sebilah bambu di pundaknya. Air itu ia ambil dari sisa mata air yang belum mengering akibat kemarau panjang. 

Di Desa Kawahang, Arwani Balau, 50 tahun, harus menghemat air bersih. Dalam sebulan ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp 420.000 untuk 60 galon masing-masing berukuran 25 liter. Keluarganya memilih membeli air dalam galon karena letak rumah mereka tak bisa dijangkau mobil pengisi tandon. Demi menghemat, Arwani mandi di pantai air asin.

“Anak saya yang harus sekolah hanya mendapat jatah lima liter air bersih untuk mandi pagi,” katanya saat ditemui pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Di Desa Babo, Bolaang Mongondow (Bolmong), sawah tadah hujan milik Putih Hati Paropo telah retak. Retakan selebar dua jari orang dewasa itu terlihat di seluruh areal persawahan Babo seluas sekitar 80an hektar. Benih padi yang ditanam pada Juli 2026 hangus terpanggang, menyisakan kerugian Rp 17 juta bagi Putih. Ia kini terpaksa menanam semangka, menyiramnya secara manual demi bertahan hidup. Sementara di Toraut, Yusuf Liohu menjual lima sapinya karena rumput pakan telah mati karena panas.

Di Desa Ilomata, pesisir Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Japar yang sudah berusia 83 tahun, merajut kembali jaring soma. Kenaikan suhu laut memaksa ruaya ikan tuna bergeser hingga puluhan mil laut ke perairan Maluku Utara, membuat soma cepat rusak. Setiap trip kapal nelayan kini menuntut biaya BBM hingga Rp 10 juta. Di desa yang sama Romi Pidu, 41 tahun, terpaksa beralih menjadi kuli bangunan karena bibit padinya rusak dan ombak selatan menghalanginya pergi melaut.




Di Bitung, Martini Mundok, 40 tahun, istri nelayan di Wangurer, terpaksa berutang beras ke pemilik kapal saat badai selatan menahan suaminya melaut. “Tambah utang. Hanya itu pelarian kami,” kata Martini ketika ditemui pada 14 Agustus 2026.

Derita di tingkat tapak ini merupakan bagian dari whiplash iklim regional. Koordinator Bidang Observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Sulut, Muhammad Candra Buana, mengonfirmasi bahwa anomali suhu sepanjang tahun 2026 berkaitan erat dengan fenomena El Niño sangat kuat.

Baca artikel lengkap Sulawesi Utara: Tagihan iklim bagi warga rentan di Teras.id

🔓 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/sulawesi-utara-tagihan-iklim-bagi-warga-rentan-2283422

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com