Tambang di hulu, sawah di hilir

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
👑 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Langit di atas perkebunan Rape, Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, perlahan menggelap pada Jumat sore, 10 April 2026. Awan menggantung rendah, pertanda hujan akan turun seperti hari-hari sebelumnya. Di tengah hamparan lahan pertanian yang tak lagi menyerupai sawah, seorang lelaki tua tampak membungkuk, menusukkan subek ke tanah, menugal satu demi satu lubang kecil.

Dit Makalalag, 70 tahun, menanam biji kedelai satu per satu dengan sistem tugal manual. Tak ada mesin, tak ada bantuan. Hanya dirinya sendiri, bertahan di atas lahan yang dulunya adalah sawah subur.

“Saya kerja sendiri di kebun. Dari buka lahan sampai tanam. Kalau sudah selesai, baru ke tambang,” ujar pria yang akrab disapa Papa Andri dengan suara pelan.

Lelaki asal Bakan yang kini tercatat sebagai warga Desa Tanoyan itu menggarap lebih dari satu hektare lahan milik PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM). Di atas lahan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh perusahaan itu, ia tak diizinkan menanam tanaman tahunan.

Dulu, ia menanam nilam. Kini, jagung dan kedelai menjadi pilihan terakhir. Itu tanaman yang masih bisa hidup di tanah yang telah berubah tersebut.




Di sela usia senja, Dit tak hanya bertani. Ia juga menambang emas secara tradisional di lokasi pertambangan tanpa izin (PETI) di Tanoyan bersama tiga anak dan dua keponakannya.

“Dulu ini semua sawah. Puluhan hektare. Sekarang sudah tidak ada lagi,” kata dia sambil menunjuk hamparan luas yang kini dipenuhi kerikil dan tanah keras.

Menurut dia, perubahan itu bermula dari banjir besar yang membawa lumpur dari arah perbukitan, lokasi aktivitas tambang di hulu. Material itu menimbun sawah, merusak struktur tanah, dan mengubah permukaan menjadi kerikil.

“Tanahnya sudah tidak rata, penuh batu. Tidak bisa ditanam padi lagi. Akhirnya perusahaan bayar kompensasi. Kalau tidak salah sekitar Rp 90 juta per hektar,” ujarnya.

Baca artikel lengkap Tambang di hulu, sawah di hilir di Teras.id

👑 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/tambang-di-hulu-sawah-di-hilir-2129583

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com