Connect with us

Sorotan

Ketika Intelektual Kristen Bicara Soal NKRI

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Kamis (29/6/2017) sekitar pukul 21.15 Wita, Kantor Redaksi Zonautara.com yang berlokasi di Kawasan Marina Plaza Manado kedatangan lima orang tamu. Mereka adalah para Pengurus DPD Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Sulawesi Utara plus salah seorang Ketua Dewan Penasehat DPP.

Berada diantara para cendekiawan kristen ini, suasana terasa hangat. Sebenarnya maksud kedatangan mereka adalah dalam rangka pembentukan DPD PIKI Sitaro dan berkonsultasi dengan Dirut PT Selo Aheng Utara Max Sudirno Kaghoo untuk membentuk PIKI di salah satu wilayah Nusa Utara tersebut. Namun pertemuan berlanjut dengan sesi diskusi yang alot.

Satu per satu dari mereka angkat bicara soal sejarah wadah kaum intelegensia kristen ini. Peran PIKI dan umat kristen tak dapat dipisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. PIKI sendiri merupakan gabungan organisasi yang berada di bawah Parkindo termasuk GAMKI dan GSKI sebagai wadah politik.

Perkembangan isu radikalisme yang mengemuka belum lama ini menjadi topik hangat pembicaraan. NKRI harus tetap berdiri di dalam keberagaman sebab negeri yang wilayahnya terbentang dari Sabang sampai Merauke ini tersusun atas berbagai latar belakang etnis, budaya maupun agama.

“Kalau dikaitkan dengan (fenomena isu) sekarang, kami memiliki tantangan untuk menimbulkan kesadaran bahwa negara ini didirikan oleh banyak orang. Itu salah satu beban. Dan PIKI ada di wilayah itu sebagai tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab iman,” jelas Abraham Fredy Paendong selaku Ketua DPD PIKI Sulawesi Utara.

Sejarah menurut dia, telah menorehkan tinta emas kemerdekaan atas perjuangan segenap komponen bangsa tanpa terkecuali. “Dan itu yang saya sampaikan waktu sosialisasi empat pilar dengann Gubernur Olly Dondokambey. Bahwa Pancasila bukan kompromi dengan orang Kristen tapi memang warga Kristen punya peran mendirikan negara ini sehingga tidak harus dianggap warga negara kelas dua,” tegasnya.

Keberagaman dan interaksi elemen agama di Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya seharusnya menjadi barometer NKRI dalam menghadapi persoalan. Kedamaian daerah ini menjadi ukuran bahwa kemajemukan dapat hidup berdampingan tanpa melihat perbedaan. Tanpa menganggap ada superioritas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara apalagi terkait sejarah kemerdekaan bangsa.

Sumbangsih pemikiran diberikan kepada pemerintah termasuk menangani isu-isu radikalisme. NKRI harga mati dan tak bisa ditawar-tawar dan harus terus digaungkan. Beberapa tokoh PIKI Sulawesi Utara merumuskan konsep terkait hal itu dan disumbangkan melalui lembaga legislatif DPR maupun pemerintah daerah.

Dalam menyikapi gencarnya isu-isu disintegrasi bangsa, PIKI terus mengedepankan pemecahan masalah berlandaskan karakter kekristenan yang menjadi landasan. Konsep mengasihi, menyampaikan atas dasar kasih dipandang sebagai pertanggungjawaban iman kepada Tuhan.

“Ada sekian banyak membentang isu nasional, maka PIKI dengan karakter kekristenannya menyikapi berbagai isu itu dengan semangat bahwa dia tahu persoalan, karena dia berakar di tengah-tengah kehidupan bangsa. Respons kita terhadap berbagai isu selalu berangkat dari persoalan-persoalan kebangsaan yang telah dijalani sendiri oleh PIKI. Cara menyampaikan itu adalah dengan kekristenannya, bahwa didalam kekristenan ada hukum terbesar yaitu hukum kasih,” papar Max Siso, salah satu Ketua Dewan Penasehat DPP PIKI.

Merunut sejarah terbentuknya organisasi ini, PIKI sendiri telah berdiri sejak tahun 1963 di masa pemerintahan Presiden pertama RI, Ir Soekarno. Saat itu, kaum intelektual kristen ini bernaung dalam Parkindo bersama puluhan organisasi lainnya termasuk GAMKI dan GSKI. Awalnya bernama Persatuan Sarjana Kristen Indonesia namun dirubah dengan satu pertimbangan.

“Berdasarkan pemikiran bahwa banyak guru-guru, banyak pengajar-pengajar gereja, dan kaum intelektual yang non gelar sehingga namanya dirubah menjadi intelegensia. Puluhan organisasi itu kalau di politik berjuang bersama Parkindo tetapi gereja pada waktu itu konsisten sebagai pelayan mezbah. Oleh karenanya, semua organisasi yg bernaung bersama Parkindo ini dalam anggaran dasarnya berakar dari tengah-tengah kehidupan gereja, masyarakat, bangsa dan negara,” lanjut Siso.

Secara organisasi, puluhan tahun PIKI terlihat minim aktivitas. Meski demikian, kader-kader berwawasan tinggi ini aktif melibatkan diri dalam organisasi politik dan terus mengantisipasi serta mengelola masalah-masalah politik yang terjadi baik di daerah maupun secara nasional.

Para kadernya diberi hak penuh untuk terjun dalam dunia politik namun dengan kapasitas intelektualnya harus mampu ‘mempengaruhi’, menjadi garam dan terang dunia tanpa memihak kepentingan dan golongan. “Yang pasti bahwa dalam fungsi sebagai garam dan terang tidak boleh kehilangan arah dari posisinya sebagai organisasi yang berakar di tengah-tengah kehidupan gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Bahwa kita bernegara ya, tetapi bermasyarakat itu murni dengan sebuah kaidah Kristus itu adalah Raja dan Juruslamat,” terang pria berkarakter vokal ini.

Puluhan tahun tanpa aktivitas organisasi, kini PIKI mulai bergeliat. Hal ini dipandang sebagai suatu keharusan sejarah. Sebagai satu wadah perkumpulan intelektual kristen, PIKI harus menyumbangkan karya nyata di tengah-tengah kehidupan bangsa dan gereja. Konsolidasi dilakukan untuk membentuk kepengurusan di 15 Kabupaten dan Kota di Sulawesi Utara.

“Salah satunya juga kami datang berkonsultasi dengan pak Dirno agar Kabupaten Sitaro juga boleh dibentuk karena potensi masyarakat kristen disana cukup banyak. Kalau saat ini sudah ada pengurus di 13 Kab/Kota termasuk Sitaro. Tinggal Bolmut dan Bolsel yang belum terbentuk,” ujar Sekretaris DPD PIKI Sulut Terry Frans.

Target utama kedepan adalah membentuk struktur kepengurusan hingga tingkat kecamatan dan desa untuk memasyarakatkan dan mensosialisasikan PIKI di Sulut. Disamping itu, terus mempersiapkan diri melakukan Musda. “Tetapi dalam waktu dekat ini kami akan fokus dengan Rakernas dan Kongres Luar Biasa DPP pada 7-9 juli 2017. Itu diharapkan semua caretaker DPD Kab serta Kota yang sudah terbentuk dapat hadir,” jelas Frans.

Sekitar setengah jam berdialog, kegiatan dilajutkan dengan melakukan foto bersama di Ruang Redaksi Zonautara.com dan ditutup dengan jabat tangan satu dengan yang lain. Sesi dialog dengan para tokoh intelektual kristen dengan latar belakang pendidikan dan kepakaran yang berbeda-beda ini menambah wawasan pentingnya hidup dalam kebersamaan dengan iman yang kokoh.

Hadir dalam dalam dialog dan wawancara tersebut, Ketua Dewan Penasehat DPP PIKI Max Siso, Ketua DPD PIKI Sulut Ir. Abraham Fredy Paendong, M.Si, Wakil Ketua Drs. Elisa Regar, M.Hum, Sekretaris Dr. Ir. Marthianus Baroleh, M.Si, Wakil Sekretaris Dr. Ir. Terry Frans, M.Si, dan Dirut PT. Selo Aheng Utara Max Sudirno Kaghoo, S.Sos, M.Si.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sorotan

Jangan mengaku “orang Manado” kalau masih buang sampah sembarangan

Kami mendatangi kaum millenial untuk mendengar apa kata mereka soal sampah.

Published

on

Ilustrasi (Foto: Pixabay.com/Natasya Gepp)

MANADO, ZONAUTARA.com – Bumi semakin menua semakin banyak yang membebaninya. Sampah, sejak lama sudah menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Tak usah jauh, di kota kita tercinta, Kota Manado yang masih memiliki alam yang asri dan lautan yang cantik, kini harus juga berurusan dengan sampah. Termasuk di laut. Entah apa salah laut kita.

Hasil laut di utara pulau Sulawesi saban hari kita nikmati. Laut yang kaya dengan ikan yang segar dan lezat untuk disantap, serta berbagai biota laut lainnya. Karena kecantikan laut kita juga, daerah kita bisa dikenal di mana-mana sampai ke negara luar. Namun laut yang sama harus menanggung ketidakpedulian kita.

Secara global lautan di dunia harus menanggung 12,7 juta ton sampah plastik per tahun. Indonesia berada di urutan kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Dan Kota Manado masuk sebagai salah satu dari 10 kota terkotor pada penilaian Adipura 2018.

Baca juga: Mereka lego sampah ke laut, kami merekamnya

Memiliki pesisir pantai, pemandangan ke arah laut Manado kini sudah tidak seindah dulu. Banyak sampah bertebaran di tepi pantai, dan bahkan dalam rute perjalanan ke Pulau Bunaken, sudah sangat sering dijumpai sampah yang mengapung di atas permukaan laut.

Banyak penyebab sampah-sampah itu menemui jalannya ke laut. Selain yang dibuang langsung dari kapal/perahu yang berlayar, muara sungai-sungai di Manado yang bermuara langsung ke Teluk Manado juga menjadi penyuplainya.

Adalh Willbert Karundeng, anak millenial, 19 tahun, warga Kanaan Ranotana Weru, Kecamatan Wanea, mengingatkan jika pemerintah kota harus bekerja lebih keras lagi dengan kondisi itu.

Baca juga: Lautan sampah di pantai Manado

Namun Willbert juga berharap sebagai kota dengan ribuan jiwa warganya, masyarakat harus pula bertanggung jawab dengan kondisi ini.

“Zaman semakin modern, seharusnya tingkah laku kita juga harus ikut beradab, jangan menanggap sepele soal sampah. Jangan membuangnya sembarangan. Bayangkan, jika kita semua tidak peduli dengan sampah, dan membuangnya sembarangan,” kata Wilbbert, saat ditemui Zonautara.com, Rabu (12/6/2019).

Wakil Dua Putra Bitung ini juga mengatakan, bahwa orang Manado itu dikenal dengan paras yang cantik dan ganteng. Maka seharusnya, kita juga merasa malu kalau lingkungan kita tak secantik paras kita.

“Jangan mengaku orang Manado jika masih membuang sampah sembarangan,” kata Willbert.

Willbert Karundeng. (Foto: Zonautara.com/Tessa Senduk)

Willbert yang saat ini juga aktif dalam Pelayanan Siswa Kristen Berprestasi Sulawesi Utara, merasakan dampak sampah yang dibiarkan begitu saja. Tempat tinggalnya yang berada di dekat pasar, memberi dia pengalaman berurusan dengan sampah.

Sampah yang tidak segera diangkut dan dibiarkan begitu saja membuat udara tercemari dengan bau busuk. Bahkan jika tidak segera diangkut, tumpukan sampah dapat menggangu pengunjung pasar yang lalu lalang.

Pemerintah harus lebih serius lagi mengurus pengelolaan sampah. Dari pengalamannya, petugas kebersihan yang mengangkut sampah dari rumahnya langsung mencampur sampah begitu saja, padahal sampah plastik sudah dipisahkan dari yang lainnya.

Willbert sendiri mengapresiasi program Bank Sampah Pemerintah Kota Manado. Bank Sampah mendidik masyarakat memperlakukan sampah plastik dengan baik. Tidak langsung dibuang namun bisa dikumpulkan dan menghasilkan uang.

Willbert mengajak seluruh anak milenial Kota Manado untuk mendukung Less Plastic City demi kota tercinta menjadi lebih baik.

“Anak gaul itu bawa tumbler dan sedotan stainless,” pungkas Willbert.

Editor: Ronny Adolof Buol

Artikel ini bagian dari Liputan Khusus soal Sampah Di Kota Manado

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com