Connect with us

Sorotan

Pernah Jadi Tentara Amerika, Putera Ongkaw Ini Ajukan Proposal Pembebasan Minahasa

Di Filipina ternyata Lembong menemukan jodohnya, seorang perempuan Filipina bernama Asuncion Angel. Jelang berakhirnya perang, Lembong pernah membuat proposal pembebasan Minahasa dari tangan militer Jepang.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.com – Tak banyak yang tahu, semasa Perang Dunia II, beberapa orang-orang Indonesia bergabung dengan tentara Amerika. Itu terjadi sebelum terbentuknya Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) lahir, yang menjadi cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dikutip dari tirto.id, alasan mereka bergabung menjadi tentara Amerika itu karena terjebak dalam peperangan lalu bergerilya melawan tentara pendudukan Jepang. Namun adalah pula karena memang niat untuk bergabung.

Yang menarik, dari sekian banyak yang menjadi tentara Amerika, ada satu nama asal Sulawesi Utara yang sempat menjadi tentara Amerika. Dia adalah Adolf Gustav Lembong.

Catatan Wikipedia menyebut Adolf Lembong lahir di Ongkaw, Minahasa Selatan pada 19 Oktober 1910.

Lembong memang tak pernah mendaftar sebagai tentara Amerika, namun dia tercatat sebagai anggota unit gerilya Luzon, Luzon Guerrilla Army Force (LGAF). Unit ini terkoordinasi dengan satuan tempur Amerika di Timur Jauh, United State America Force Far East (USAFFE).

Kisah Lembong ini bisa ditemukan dalam laporan tugasnya di Filipina dalam: Rapporten inzake de guerillaaktiviteiten van KNIL-militair Adolf Lembong als 1e luitenant infanterie van de LGAF USAFFE op de Filipijnen van augustus 1943 tot april 1945 en betreffende zijn voordracht tot toekenning van een koninklijke onderscheiding. (Koleksi Arsip Nasional Belanda). Laporan itu diketik sendiri oleh Lembong dalam bahasa Inggris.

Lembong sebelumnya adalah petugas radio dari Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) pada era Hindia Belanda di Manado. Sesudahnya ia bergerilya di Filipina. Ia sempat ditawan di Bandung, lalu dijadikan pembantu tentara Jepang (Heiho) di front Pasifik.

Ia berhasil kabur bersama orang-orang Minahasa mantan KNIL yang dijadikan Heiho lainnya, lalu bergabung dengan gerilyawan Filipina yang melawan tentara pendudukan Jepang di sana. Mereka di antaranya adalah: Alexander Rawoeng, Jan Pelle, Marcus Taroreh, Marthin Sulu, Alexander Kewas, Albert Mondong, Hendrik Terok, Andries Pacasi, dan William Tantang.

Sebagai petugas radio di LGAF-USAFFE, Lembong dibawah komando Kapten Robert Lapham dari Tentara ke-6 dengan pangkat Letnan Satu. Sebelumnya saat di KNIL dengan posisi yang sama dia berpangkat di bawah level perwira. Lembong juga sempat jadi perwira di Batalyon Pertama Infanteri APO 6, di bawah komando Letnan Kolonel Francis Corbin —dari ketentaraan Amerika— sebagai komandan batalyon.

Di Filipina ternyata Lembong menemukan jodohnya, seorang perempuan Filipina bernama Asuncion Angel. Jelang berakhirnya perang, Lembong pernah membuat proposal pembebasan Minahasa dari tangan militer Jepang.

“Jika aku jadi diterjunkan ke Minahasa dengan tujuan mengorganisasian kekuatan gerilya, aku akan mengambil beberapa orang dari beberapa distrik berbeda di Minahasa untuk ikut bergerilya bersamaku. Distrik-distrik itu adalah: Manado, Tondano, Tonsea, Tomohon, Kawangkoan dan lainnya,” usul Lembong.

Lembong berencana melibatkan kawan-kawan Manado eks KNIL yang ikut gerilya di Filipina. Mereka akan dimasukan dalam tim klandestin ke Sulawesi Utara untuk mengorganisir kekuatan gerilya anti Jepang. Dalam rencana Lembong, setelah daerah Minahasa dibebaskan, setelahnya adalah Gorontalo.

“Tim akan masuk ke Minahasa dengan tidak bersenjata dan disamarkan sebagai orang sipil biasa, orang-orangku setelah mendarat akan pergi ke kampung halaman untuk memantau situasi saat itu, menghubungi orang-orang sipil lain yang mau sukarela bergabung dengan gerilya KNIL,” usulnya lagi.

Dalam usulannya, Lembong juga minta dibekali senjata api, radio, granat tangan dan logistik lainnya. Sayang proposal itu tidak terlaksana, karena Jepang keburu menyerah.

Usai perang, Lembong dikembalikan ke KNIL dengan pangkat Letnan. Saat Agresi Militer Belanda I, Lembong lari dari KNIL dan bergabung dengan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pada tahun 1947, KRIS dan beberapa organisasi lainnya diintergrasikan dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Setahun kemudian, TRI menjadi TNI dan Lembong diangkat sebagai Komandan Brigade XVI.

Pada waktu Agresi Militer Belanda II, Lembong sempat ditangkap oleh pasukan Belanda di Yogyakarta dan dipenjarakan di Ambarawa. Lembong sempat akan ditugaskan sebagai atase militer di Filipina, namun dia diserahi tugas sebagai Kepala Bagian Pendidikan Angkatan Darat.

Pada 23 Januari 1950, Lembong berencana bertemu dengan komandan Divisi Siliwangi. Namun naas, dia tidak tahu bahwa markas Divisi Siliwangi sudah diduduki oleh pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Lembong lalu dibunuh secara keji oleh pasukan APRA dibawah pimpinan Westerling.

Tempat dimana Lembong dibunuh, saat ini adalah sebuah meseum tentang Divisi Siliwangi. Jalan dimana meseum itu berdiri bernama Jalan Lembong.

Di Kota Manado, nama Adolf Lembong juga diabadikan sebagai nama jalan. Ruas jalan itu berada di seputaran Pasar 45, tepatnya di Kelurahan Pinaesaan, sebuah ruas jalan kecil dari Kampung Cina hingga ke perempatan lampu merah menuju Pelabuhan Manado. Sepanjang jalan itu dijejali berbagai toko aneka jualan.

Diolah dari berbagai sumber (tirto.id, wikipedia)

Bagikan !

Sorotan

Anggota ISIS asal Indonesia itu berstatus stateless

Jangan lagi membebani negara dan pemerintah serta rakyat Indonesia dengan rencana pemulangan mereka.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Warga Indonesia yang pernah menjadi anggota Islamic State Irak and Syria (ISIS), yang kini berada di Timur Tengah bukan lagi merupakan warga negara Indonesia (WNI). Sebab, kewarganegaraan mereka otomatis hilang ketika bersedia berjuang untuk negara lain, dalam hal ini ISIS.

Demikian yang ditegaskan anggota Komisi I DPR RI Willy Aditya dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (09/02/2020). Menurutnya, pernyataan tersebut dilandaskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Pasal 23 poin d dan e yang mengatur tentang kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia.

zonautara.com
Anggota Komisi I DPR RI Willy Aditya.(Suara.com/Yosea Arga Pramudita)

Willy mengatakan, dalam pasal itu disebutkan bahwa seseorang dapat kehilangan warga negara Indonesia, jika masuk dalam dinas tentara asing, tanpa izin terlebih dahulu dari presiden.

Selain itu, juga secara sukarela masuk dalam dinas negara asing, yang jabatan dalam dinas semacam itu di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya dapat dijabat oleh WNI.

“Mereka itu sudah eks-WNI. Kenapa? Karena undang-undang secara tegas menyatakan bahwa seorang kombatan perjuangkan negara lain maka gugur warga negaranya. Lalu mereka sudah lima tahun di luar di Indonesia, itu juga gugur,” kata Willy seperti yang dilansir Suara.com.

Karena tidak memiliki kewarganegaraan atau berstatus stateless, anggota Komisi I DPR RI ini lebih menyetujui jika pemerintah tak perlu membantu kepulangan sekitar 600 orang dari Timur Tengah. Willy lebih memilih agar mereka bisa berupaya sendiri dalam memperjuangkan kewarganegaraannya sebagai pencari suaka.

“Biarkan ketika mereka tidak bisa pulang, ketika mereka status kewarganegarannya sudah stateless biarkan mereka menjadi pencari suaka. Walaupun nanti keputusan politik menjadi hal berbeda. Tapi ketika itu terjadi mereka akan sadar, publik akan melihat, dunia internasional akan melihat bahwasannya ini loh hukuman bagi orang yang bermain-main,” tegasnya.

zonautara.com
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin.(Suara.com/Novian)

Pada kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin menilai bahwa tidak bisanya kembali ke Indonesia bagi WNI eks-ISIS yang kini berada di Timur Tengah sudah merupakan bagian dari risiko yang harus dihadapi.

Suka atau tidak suka keputusan untuk meninggalkan Indonesia dan membela ISIS diambil oleh para WNI itu secara sadar dengan harapan mencari jalan jihad menuju surga.

“Siapa-siapa yang pergi dan mengatasnamakan dirinya untuk kesenangan dirinya, untuk memilih ideologinya, kemudian pergi dan keluar dari Indonesia, kemudian menempuh jalan surgawinya, tempuh lah jalan itu,” kata Ngabalin.

Ia menegaskan agar jangan lagi membebani negara dan pemerintah serta rakyat Indonesia dengan rencana pemulangan mereka.

“Karena kau sudah menyebutkan negara ini negara tagut, negara kafir sambil membakar paspornya. Makan itu kau punya paspor,” ujarnya.

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com