Connect with us

Sorotan

Meski Tak Hadir Sidang, Vanda Resmi Ditetapkan Terdakwa

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Jaksa Penuntut Umumn (JPU) Lily Muaja belum bisa menghadapkan VJ alias Vanda ke persidangan perkara kasus penipuan, penggelapan, dan pemalsuan surat, Rabu (27/9/2017). Walhasil, sidang yang dipimpin langsung dan dibuka oleh Ketua Pengadilan Negeri (PN) Manado Djaniko Girsang itu terpaksa harus ditunda.

Namun, meskipun tak hadir, status Vanda sudah resmi ditetapkan sebagai Terdakwa dalam kasus yang disidangkan di PN Manado ini. Demikian yang dijelaskan oleh Alfi Usup selaku Humas PN Manado kepada wartawan Zona Utara.

“Ketika palu sudah diketuk, meski JPU belum membacakan dakwaan atau sidang ditunda, itu sudah masuk pokok perkara. Artinya, status Tersangka sudah berubah menjadi Terdakwa,” jelas Alfi.

Kasus Vanda bermula pada sekitar bulan Agustus 2016 hingga Januari 2017, kala dirinya intens berhubungan dengan perempuan bernama Tirza Koyongian. Hubungan keduanya dimaksudkan untuk membicarakan proyek di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ratumbuysang, dan kala itu Vanda meminjam uang sebesar Rp 9 miliar kepada Tirza sembari menjanjikan keuntungan Rp 4 miliar dalam proyek yang dibicarakan.

Namun hingga 2017 Vanda tak kunjung melunasi hutang-hutangnya. Tercatat, baru sekitar Rp 200 juta uang yang dikembalikan ke Tirza. Merasa telah ditipu, Tirza lantas membawa masalah itu ke ranah hukum.

Oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) perbuatan Vanda dinilai melanggar pasal 264 dan 263 KUHPidana. Dan pasal 372 dan 378 KUHPidana.

 

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Sorotan

Hoaks sengaja disebar untuk picu kerusuhan di Wamena

Semuanya diminta untuk menahan diri.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko seusai rapat internal dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/09/2019) siang, langsung merespons peristiwa kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua. Moeldoko mengatakan bahwa peristiwa di Wamena harus disikapi dengan cara-cara proporsional dan profesional.

“Jangan sampai penyelesaian itu membangun dengan emosi yang pada akhirnya aparat itu melakukan tindakan-tindakan yang uncontrol. Itu yang tidak kita inginkan,” kata Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan ini mengakui jika dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena terdapat korban, termasuk di pihak aparat keamanan, yaitu TNI dan Polri.

Ia menegaskan bahwa tidak ada instruksi bagi aparat untuk melakukan tindakan represif dalam menangani kerusuhan di Wamena itu. Semuanya diminta untuk menahan diri karena ini sangat berkaitan dengan perkembangan isu di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Jadi jangan kita memunculkan situasi yang tidak bagus. Jadi semuanya harus terkontrol dengan baik aparat keamanan, tidak ada langkah-langkah yang eksesif, tetapi juga keamanan menjadi kebutuhan bersama,” tegas Moeldoko.

Kabar hoaks yang memicu kerusuhan di Wamena, menurut Moeldoko, akibat adanya isu yang disebarkan bahwa ada seorang guru yang melakukan rasis. Padahal hal itu tidak terjadi. Kapolri juga mengatakan tidak ada hal itu.

“Sudah dicek ke sekolahan  itu tidak yang terjadi seperti itu. Tapi begini, ya, karena situasi ini, sekali lagi, situasi ini adalah situasi yang diprovokasi dalam rangka menciptakan situasi untuk konsumsi,” ujarnya.

Moeldoko menghimbau agar harus menyikapi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti ikut terbawa emosi, terpancing dan seterusnya. Hal tersebut juga sudah menyampaikan hal itu kepada aparat keamanan di wilayah Papua.

Ia menduga adanya provokasi yang sengaja diciptakan untuk memicu terjadinya kerusuhan di Wamena. Saat aparat terpancing melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia berat bisa dijadikan celah tuntutan di PBB.

“Kami sudah tahu agendanya ke mana,” ujarnya.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com