Connect with us

Sorotan

Anggota DPRD Sulut Ini Ternyata Sudah 2 Tahun Nyabu

EYL alias Edwin, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, ternyata telah mengkonsumsi narkoba sejak dua tahun lalu sebagaimana pengakuannya.

Bagikan !

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com –  EYL alias Edwin, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, ternyata telah mengkonsumsi narkoba sejak dua tahun lalu sebagaimana pengakuannya.

“Dari pengakuan yang bersangkutan mengkonsumsi (narkoba) sudah dua tahun. Saat ditangkap EYL sedang berada sendirian di kamar hotel di Jakarta Barat,” kata Wakapolres Metro Jakarta Barat AKBP Hanny Hidayat, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, Kamis (28/9/2017).

Hanny menjelaskan, dari informasi sementara selama dua tahun ini Edwin mengonsumsi narkoba jenis sabu.

“Informasi sementara hanya sabu, masih dalam pengembangan kami,” sebut Hanny.

Edwin dibekuk Jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat disebuah hotel di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Barat saat tengah mengonsumsi narkoba.

Penangkapan dilakukan pada Rabu (27/9/2017), sekitar pukul 23.30 WIB.

Saat itu polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu paket kecil sabu berat bruto 0,4 gram, sebuah alat isap bong, satu pipet bening, dan satu korek api.

Akibat perbuatannya, Edwin dijerat dengan Pasal 112 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Berita ini sudah tayang sebelumnya di Kompas.com

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Sorotan

Hoaks sengaja disebar untuk picu kerusuhan di Wamena

Semuanya diminta untuk menahan diri.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko seusai rapat internal dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/09/2019) siang, langsung merespons peristiwa kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua. Moeldoko mengatakan bahwa peristiwa di Wamena harus disikapi dengan cara-cara proporsional dan profesional.

“Jangan sampai penyelesaian itu membangun dengan emosi yang pada akhirnya aparat itu melakukan tindakan-tindakan yang uncontrol. Itu yang tidak kita inginkan,” kata Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan ini mengakui jika dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena terdapat korban, termasuk di pihak aparat keamanan, yaitu TNI dan Polri.

Ia menegaskan bahwa tidak ada instruksi bagi aparat untuk melakukan tindakan represif dalam menangani kerusuhan di Wamena itu. Semuanya diminta untuk menahan diri karena ini sangat berkaitan dengan perkembangan isu di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Jadi jangan kita memunculkan situasi yang tidak bagus. Jadi semuanya harus terkontrol dengan baik aparat keamanan, tidak ada langkah-langkah yang eksesif, tetapi juga keamanan menjadi kebutuhan bersama,” tegas Moeldoko.

Kabar hoaks yang memicu kerusuhan di Wamena, menurut Moeldoko, akibat adanya isu yang disebarkan bahwa ada seorang guru yang melakukan rasis. Padahal hal itu tidak terjadi. Kapolri juga mengatakan tidak ada hal itu.

“Sudah dicek ke sekolahan  itu tidak yang terjadi seperti itu. Tapi begini, ya, karena situasi ini, sekali lagi, situasi ini adalah situasi yang diprovokasi dalam rangka menciptakan situasi untuk konsumsi,” ujarnya.

Moeldoko menghimbau agar harus menyikapi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti ikut terbawa emosi, terpancing dan seterusnya. Hal tersebut juga sudah menyampaikan hal itu kepada aparat keamanan di wilayah Papua.

Ia menduga adanya provokasi yang sengaja diciptakan untuk memicu terjadinya kerusuhan di Wamena. Saat aparat terpancing melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia berat bisa dijadikan celah tuntutan di PBB.

“Kami sudah tahu agendanya ke mana,” ujarnya.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com