Connect with us

ZONAPEDIA

Cari Tahu Hal Ini Sebelum Mendaki Gunung

Jangan remehkan persiapan agar tak pulang tinggal nama.

Published

on

Jalur pendakian di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. (Foto: zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com– Mendaki gunung merupakan salah satu olahraga alternatif yang diminati oleh semua kalangan, terlebih khusus kalangan anak muda. Dengan mendaki gunung kita bisa menikmati keindahan alam yang tidak biasa. Contohnya dapat melihat kawah gunung, dapat melihat hamparan pegunungan nan hijau, dapat menikmati seluruh keindahan kota, dan masih banyak lagi keindahan yang dapat kita nikmati ketika sebuah gunung didaki. Apalagi ditemani orang yang spesial.

Namun aktifitas mendaki gunung bisa menjadi kegiatan olahraga alternatif yang ekstrem. Mengapa ekstrem? karena saat mendaki gunung kita akan menghadapi berbagai macam medan lintasan dan berbagai macam kondisi alam berbahaya dan tak terduga.

Sebelum kita mendaki gunung, sebaiknya perhatikan dua hal berikut:

  1. Hal Berbahaya

Ini salah satu kondisi yang akan kita jumpai saat mendaki gunung. Kondisi ini bisa disebabkan karena alam itu sendiri yang tidak bisa ditebak dan tidak bisa kita hindari. Kita hanya bisa meminimalisir bahaya dengan cara mempersiapkan diri melengkapi semua peralatan pendakian.

Contoh kondisi berbahaya seperti terjadi gempa saat mendaki, terjadi longsor, hujan, pohon tumbang, bertemu binatang buas/berbisa.

Untuk meminimalisir kecelakaan akibat kondisi berbahaya tersebut, yang perlu kita lakukan adalah mencari data informasi yang lengkap mengenai gunung yang akan kita daki. Seperti informasi prakiraan cuaca di lembaga resmi seperti BMKG, informasi aktifitas gunung yang akan kita daki di pos pemantau gunung, dan informasi lainnya yang terpercaya.

  1. Hal Mengundang Bahaya

Ini merupakan kondisi yang timbul karena kelalaian kita sendiri. Kondisi ini adalah kondisi yang seharusnya bisa antisipasi dan dihindari. Kondisi ini lebih ke persiapan fisik dan intelegensia saat melakukan pendakian.

Contoh kondisi mengundang bahaya seperti kurangnya pemahaman akan manajemen pendakian, tidak membawa peta dan kompas, dan kondisi fisik yang tidak dilatih.

Saat mendaki gunung seharusnya kondisi mengundang bahaya bisa kita hindari dengan cara: menguasai manajemen perjalanan; mempersiapkan semua peralatan mulai dari peta, kompas, golok, senter, perbekalan, dan yang terpenting adalah kondisi fisik saat kita melakukan pendakian harus sehat dan prima.

zonautara.com

Jalur pendakian di Gunung Soputan, Sulawesi Utara. (Foto: zonautara.com/Suhandri Lariwu)

Fisik merupakan faktor utama dalam kondisi mengundang bahaya ini. Bagaimana kita akan mendaki gunung pada ketinggian 3000 Mdpl misalnya, sementara kita tidak melatih fisik misalnya dengan joging dan tidak memperhatikan asupan kalori. Dengan memperhatikan dua hal ini saja, kita sudah mengurangi kondisi mengundang bahaya saat melakukan pendakian.

Untuk memastikan kondisi kebugaran fisik apakah sudah cukup ketika melakukan pendakian bisa didapatkan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menggunakan perhitungan Balke. Dengan perhitungan Balke, minimal kita bisa mendapatkan gambaran mengenai kondisi kebugaran fisik kita saat mau melakukan pendakian.

Bagaimana menghitung kebugaran dengan perhitungan Balke?

 

Ket:     X = Jarak yang ditempuh dalam satuam meter saat kita joging

15 = lama waktu (menit) saat joging non stop

Selain kebugaran fisik, asupan kalori juga harus kita perhatikan dalam melakukan pendakian gunung. Kebutuhan asupan kalori akan berdampak pada daftar menu perbekalan yang akan kita bawa saat melakukan pendakian. Dengan mengetahui total kalori yang kita butuhkan, kita bisa menentukan apa saja perbekalan yang akan kita bawa saat melakukan pendakian gunung.

Bagaimana cara mengetahui kebutuhan asupan kalori minimal pada tubuh kita? Kita bisa menggunakan rumus perhitungan Haris Benedict atau biasa kita kenal dengan BMR (basal metabolic rate)

BMR Pria = 66 + (13,7 x berat badan) + (5x tinggi badan) – (6,8 x usia)

BMR Wanita = 655 + (9,6 x berat badan) + (1,8x tinggi badan) – (4,7 x usia)

Ket:

  • Berat badan dalam kilogram (kg)
  • Tinggi badan dalam sentimeter (cm)

Level Aktifitas

  1. Tidak aktif = 1,2 (yang tidak berolahraga sama sekali dalam seminggu).
  2. Aktivitas ringan = 1,375 (yang berolahraga sekitar 1-3 kali dalam seminggu).
  3. Aktivitas sedang = 1,55 (yang berolahraga sekitar 3-5 kali dalam seminggu).
  4. Aktivitas berat = 1,725 (yang berolahraga sekitar 5-6 kali dalam seminggu).
  5. Aktivitas sangat berat = 1,9. (yang berolahraga sekitar 2 kali dalam sehari, termasuk latihan fisik ekstra berat, atau memang job desc-nya fullaktivitas fisik).

Untuk mengetahui kebutuhan kalori saat kita melakukan aktifitas adalah:

 

Editor: Ronny A. Buol

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Permainan Anak Tradisional

Ceklen – Seri permainan anak tradisional Sulawesi Utara

Published

on

ZONAUTARA.com – Setiap daerah di Nusantara punya kekayaan tradisi dan budaya. Termasuk kekayaan dalam permainan anak yang lahir dari kekhasan daerah dan ciri masyarakatnya.

Begitu pula dengan Sulawesi Utara sebagai tempat berdiamnya beberapa etnis asli seperti etnis Sangihe Talaud, etnis Minahasa, dan etnis Bolaang Mongonoduw.

Wilayah ini punya beberapa jenis permainan anak tradisional, yang walaupun dalam beberapa hal mirip dengan daerah lain di Nusantara.

Kemajuan teknologi dan modernisasi memang telah meminggirkan permainan anak tradisional dan menggantinya dengan permainan elektronik. Padahal permainan anak tradisional sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan budi pekerti serta tumbuh kembang anak.

Zonautara.com mencoba merangkum berbagai permainan anak tradisional tersebut dalam Liputan Khas Seri Permainan Anak Tradisional Sulawesi Utara, yang diturunkan secara berseri lengkap dengan videonya.

Ceklen

Permainan ceklen atau juga biasa disebut bekel biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan ini dikenal hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan nama yang berbeda-beda.

Anak-anak yang terdiri dari 2 hingga 5 orang anak, akan menggunakan biji bia, atau rumah kerang berukuran kecil.

Ada sebanyak 4, 6 hingga 8 biji bia yang digunakan, sesuai kesepakatan anak-anak yang terlibat dalam permainan.

Anak-anak akan duduk di lantai sambil bersila memainkan bola dan bia. Sebelum bermain, anak-anak harus melakukan “hum-pim-pah” atau suten untuk mencari siapa yang akan memulai permainan, berturut-turut sebanyak jumlah yang ikut bermain.

Tumbu tumbu blanga – Seri permainan anak tradisional Sulawesi Utara

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement

Trending