Connect with us

HKAN 2018

Tampil Tungku, Stand TN Bromo Tengger Semeru Expose Tradisi Suku Tengger

Published

on

zonautara.com

BITUNG, Zonautara.com – Pelaksanaan kegiatan Jambore Nasional Konservasi Alam dan Pameran Konservasi Alam serta Produk Unggulan, telah memasuki hari kedua.

Rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 itu dilaksanakan di TWA Batuhputih, Kecamatan Ranowulu, Bitung.

Dalam kegiatan ini, Taman Nasional Bromo Tengger dan Sumeru (TN BTS), yang langsung berada dibawah pengawasan UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem, menampilkan materi yang berkorelasi antara alam dan budaya, lewat pola hidup mereka.

Saat ditemui Zonautara.com di lokasi stand pameran, Rabu (29/8/2018), seorang delegasi TN BTS, Mahmuddin Rahmadana menjelaskan bahwa perwakilan daerahnya, menampillan budaya hidup masyarakat Tengger, yang tinggal di area Gunung Bromo.

“Hal ini seirama dengan tema umum dari kegiatan ini, yakni Harmonisasi Alam dan Budaya,” ujar Rahmadana.

Dalam kebudayaan masyarakat Tengger, mereka yakin bahwa langit adalah ayah, sedangkan bumi identik dengan Ibu.

Dengan demikian maka semua yang tumbuh di atas bumi, terlebih yang berada di sekitar tempat tinggal mereka, termasuk hutan serta satwa yang berada di dalamnya, wajib dilindungi serta dijaga kekestariannya. Itu sama layaknya menjaga dan melindungi Ibu.

Menariknya, delegasi ini juga menampilkan tungku api dalam stand mereka. Menurut Rahmadana, hal ini merupakan representasi dari cara hidup masyarakat Tengger, dalam hal menerina tamu.

“Mereka tidak pernah menerima tamu di ruang tamu mereka, namun langsung di dapur, dan duduk di dekat tungku api,” ujar Rahmadana.

Menurutnya, hal ini dilakukan karena warga Tengger hidup di hawa dingin.

“Mereka hidup di daerah gunung Bromo, dengan ketinggian sekitar 2000 meter di atas permukaan laut,” jelas Rahmadana.

Pola hidup yang serasi dengan alam inilah, akhirnya diangkat dan diekspose oleh TN BTS dalam iven HKAN tahun ini.

 

Editor: Ronny Adolof Buol

HKAN 2018

Gubernur Sulut Terima Penghargaan Dari Menteri LHK

“Kami sudah menutup 42 tambang supaya pelestarian alam lebih baik,” beber Olly.

Published

on

zonautara.com

BITUNG, ZONAUTAR.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan penghargaan kepada Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018, Kamis (30/8/2018).

Penghargaan itu diserahkan atas peran aktif Olly dalam penguatan fungsi pengelolaan Taman Nasional Bunaken dan melaksanakan konservasi ex situ Jalak Bali dan Rusa tutul.

“Saya mengapresiasi Bapak Gubernur yang sangat gigih melestarikan alam. Ini harus menjadi sikap hidup dan budaya bangsa,” ucap Menteri LHK.

Menurut Siti, kampanye konservasi alam harus terus menerus digaungkan oleh seluruh pemangku kepentingan.

“Kehidupan manusia tergantung pada alam, pada sumber daya yang dihasilkan oleh ekosistem alam. Bila semua itu rusak atau musnah pasti berpengaruh kepada kehidupan kita juga,” tandas Siti..

Olly sendiri dalam sambutanya menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sulut sangat mendukung upaya konservasi, melalui upaya pelestarian alam dengan mengakomodir kawasan hutan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Utara.

“Kita maknai momentum peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini dengan mensyukuri karunia Tuhan akan anugerah sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah serta diwujudkan melalui upaya konservasi guna menjaga kelestarian alam dan kesinambungan daya dukung lingkungan, sebagai warisan untuk generasi mendatang,” kata Olly.

Olly menuturkan, komitmen untuk menjaga kelestarian alam Sulut telah dibuktikannya dengan tidak menerapkan izin tambang, baik dalam bentuk Kontrak Karya (KK) maupun Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang luasnya dibawah 2.000 meter persegi, serta pencabutan IUP.

“Kami sudah menutup 42 tambang supaya pelestarian alam lebih baik,” beber Olly.

Menurut Olly, dicabutnya puluhan izin tambang itu berdampak positif pada eksistensi kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati yang ada di Sulut karena telah memberikan berbagai manfaat antara lain, ekosistem pendukung jasa lingkungan air dan pariwisata.

Salah satu contoh nyata dari manfaat tersebut adalah berkembang pesatnya sektor pariwisata Sulut yang sangat mengandalkan segala potensi keindahan alam serta keanekaragaman hayatinya.

“Kami juga sedang membangun ekowisata. Sektor pariwisata merupakan salah satu leading sektor pembangunan di Sulut. Selama tiga tahun terakhir, terjadi peningkatan yang signifikan terkait jumlah kunjungan wisatawan ke Sulut,” ungkap Olly.

Pencapaian positif sektor pariwisata itu berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulut meskipun harga sebagian komoditas unggulan Sulut seperti kopra, cengkih dan pala sedang turun.

“Selama tahun 2015 sampai tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Sulut selalu berada pada angka diatas 6 persen atau lebih tinggi dari Pertumbuhan Ekonomi Nasional yaitu 5 persen,” kata Olly.

Kinerja perekonomian Sulut tahun 2017 yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2017 mencapai Rp. 110,16 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 79,49 triliun.

Adapun PDRB perkapita mencapai Rp. 44,76 juta rupiah. Ekonomi Sulut tahun 2017 tumbuh 6,32 persen atau menguat dibandingkan tahun 2016 sebesar 6,17; dan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 6,12%.

Pertumbuhan ekonomi tersebut juga berdampak pada menurunnya angka kemiskinan. Persentase tingkat kemiskinan Sulut berada di bawah tingkat kemiskinan nasional yang berada pada range 10 – 11 persen. Bahkan di wilayah Pulau Sulawesi, kemiskinan di Sulut adalah yang paling rendah.

Selain itu, pada HAKN 2018 dilakukan penandatanganan pernyataan konservasi alam oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Pernyataan itu adalah komitmen menjadikan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia.

Agenda HKAN 2018 turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Ketua TP PKK Sulut, Ir Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Walikota Bitung, Max Lomban dan para peserta peringatan HAKN 2018 dari seluruh Indonesia.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com