Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Nikmati Layanan e-Boarding Pass di Bandara Samrat

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Maskapai Garuda Indonesia beberapa waktu lalu telah mengimplementasikan e-Boarding Pass di Bandara Sam Ratulangi (Samrat) Manado.

Kini, layanan tersebut bisa dinikmati oleh para calon penumpang dari maskapai Citilink, Lion Group, yakni Lion Air, Wings Air, dan Batik Air, serta Silk Air.

Fasilitas itu pun secara resmi bisa dinikmati sejak Jumat (5/10/2018).

Sama dengan proses e-Boarding Pass dari Garuda Indonesia, para calon penumpang dapat menggunakan e-Boarding Pass yang didapat setelah melakukan proses web check in di masing-masing website maskapai.

Di mana, para calon penumpang yang tidak membawa bagasi hanya perlu menunjukkan kartu identitas serta e-Boarding Pass dari ponsel atau tanpa perlu dicetak kepada petugas, untuk selanjutnya dapat langsung menuju ruang tunggu.

“Penggunaan e-Boarding Pass dari Garuda Indonesia di Bandara Sam Ratulangi pada Jumat (21/9) lalu tidak mengalami hambatan. Kini dari maskapai lainnya telah mulai mengimplementasikan sistem e-Boarding Pass ini. Semoga adanya sistem ini mampu mengurangi antrian di check-in counter, mengurangi penggunaan kertas, dan juga mempermudah calon penumpang yang tidak mempunyai bagasi untuk dapat langsung menuju boarding gate,” ungkap General Manager Bandara Sam Ratulangi Manado
Minggus E.T Gandeguai.

Adapun, kata dia, layanan web check in dari masing-masing maskapai dapat dilakukan melalui website :
– Garuda Indonesia : https://checkin.si.amadeus.net/1ASIHSSCWEBGA/sscwga/checkin?ln=en
– Citilink : https://book.citilink.co.id/searchwebcheckin.aspx
– Lion Air dan Wings Air : http://www.lionair.co.id/booking-and-services/web-check-in
– Batik Air : https://www.batikair.com/en/Checkin
– Silk Air : https://www.silkair.com/en_UK/plan-and-book/your-booking/checkin/

Layanan web check in umumnya dapat dilakukan mulai dari 48 hingga 1,5 jam atau 24-2 jam sebelum jadwal keberangkatan penerbangan.

Para calon penumpang yang ingin menikmati layanan ini, lanjut Minggus, harus membaca ketentuan dan jadwal web check-in dari masing-masing maskapai yang tentunya berbeda-beda.

Selain web check-in, kata dia, beberapa maskapai telah memiliki fasilitas pendukung lainnya untuk check in, seperti mobile check in yang dapat didownload melalui App Store dan Play Store.

Calon penumpang yang telah melakukan check-in melalui Web atau Mobile Check-in akan mendapatkan tanda bukti lapor diri berbentuk e-Boarding Pass dalam beberapa bentuk file, yaitu file pdf yang dikirimkan melalui email serta e-Boarding Pass yang dikirimkan melalui SMS/Wallet Smartphone penumpang.

File e-Boarding Pass yang telah dimiliki dapat digunakan sebagai dokumen penerbangan tanpa harus mencetak kembali dalam bentuk hardcopy atau kertas.

“Meskipun layanan e-Boarding Pass sudah mulai diterapkan di beberapa bandara lainnya, namun bentuk sinergi dengan beberapa maskapai untuk menghadirkan layanan e-Boarding Pass ini merupakan bagian dari upaya kami meningkatkan pelayanan kepada para pengguna jasa dan memudahkan calon penumpang untuk melakukan check in di mana saja, namun tentunya harus memperhatikan syarat dan ketentuan yang diberikan oleh masing-masing maskapai,” ujar Minggus.

Editor : Christo Senduk

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ekonomi dan Bisnis

Bertajuk Tara La No Ate, ICCF 2019 bakal digelar di Ternate

Published

on

Persiapan pelaksanaan ICCF 2019 di Ternate. (Foto: Istimewa)

MANADO, ZONAUTARA.com Iven Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) bakal digelar pada tanggal 2-7 September 2019. Tahun ini, Ternate, Maluku Utara didaulat menjadi tuan rumah.

ICCF 2019 bakal menyuguhkan acara-acara berkelas yang bertujuan untuk menciptakan kerja sama lintas stakeholder kota dalam mengembangkan kota kreatif.

Iven yang digagas oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Jaringan Komunitas Ternate (Jarkot) serta dibantu oleh BEKRAF dan Pemerintah Kota Ternate, bertajuk ‘Tara La No Ate’.

Dalam bahasa Ternate, Tara La No Ate berarti turun ke bawah dan pikat. Tema ini bakal diaplikasikan dengan berbagai acara yang telah disiapkan dengan matang.

Salah satu acara yang menjadi perhatian adalah Creative Cities Conference yang digelar di Grand Hotel Dafam, Ternate, pada 4-5 September 2019. Dalam konferensi ini, akan hadir sejumlah pembicara yang telah diakui sepak terjangnya dalam industri kreatif Indonesia.

Seperti Kepala BEKRAF Triawan Munaf, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Komisaris Utama NET Mediatama Wishnutama bakal hadir memberikan materi yang pasti menginspirasi. Selain itu, sejumlah wali kota kreatif dan komunitas kreatif juga bakal hadir mengisi panel tentang pengembangan industri kreatif di kotanya.

Ketua Umum ICCN Tb. Fiki C. Satari dalam keterangan resminya yang diterima Zona Utara mengatakan, dalam konferensi nanti tersedia juga semacam workshop dan ruang konsultasi yang dapat dimanfaatkan kepala daerah dan jajaran pemerintah kota untuk berdiskusi demi menciptakan kota kreatif.

“Pada acara ICCC yang merupakan bagian dari rangkaian dari ICCF 2019 di Ternate, formula Catha Ekadaksa akan secara langsung disampaikan oleh para ahli. Tidak hanya saat mereka di panggung, atau pada pembahasan di forum terbuka saja, tapi juga di sana tersedia ruang konsultasi one-on-one yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh stakeholder termasuk kepala daerah dan jajaran pemerintahnya, komunitas, akademisi, pelaku usaha dan lainya untuk mendiskusikan masalah di kota dan kabupatennya secara spesifik,” katanya.

Selain konferensi, akan ada acara lainnya, seperti Festival Banteng Oranje (2-7 September), Kololi Kie (6 September), Karnaval Budaya (2 September), Spice Tour (3 September), Jejak Wilayah Wallacea (2-7 September, ConfrenSEA/Kongres ICCN(7 September).

Maskot ICCF

Dalam gelaran ICCF 2019 juga hadir maskot yang menjadi ikon. Maskot tersebut diberi nama Quzo yang merupakan modifikasi dari kata Kuso (bahasa Ternate) yang berarti seekor hewan mamalia berkantung yang unik karena bermata biru (Phalanger sp ternate/blue-eyed cuscus). Hewan ini adalah hewan endemik Ternate-Tidore yang sudah terancam punah keberadaannya karena manusia.

Quzo terbilang berani beda dan merupakan pribadi yang kreatif. Dia sangat terobsesi menjadi astronaut yang melambangkan, bahwa anak muda Ternate harus berani bercita-cita setinggi langit, bahkan mencapai luar angkasa. Cara dia bergelantungan menggunakan ekornya membuat dia merasa seperti melayang di luar angkasa.

Warna Quzo diadaptasi dari warna kuskus pada aslinya, yaitu orange kecoklatan yang melambangkan semangat antusias dan keramahan Kota Ternate dalam menyambut ICCF 2019 di Ternate, yang juga selaras dengan identitas warna ICCN.

Matanya yang berwarna biru melambangkan Ternate yang berada di gugusan provinsi kepulauan yang luas. Pemilihan kuskus bermata biru ini juga sebagai bentuk kampanye agar masyarakat melindungi dan menjaga keberlangsungan populasi hewan asli Ternate-Tidore ini, yang kian sedikit atau terancam punah.

Tentang ICCN

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) adalah simpul komunitas kreatif skala kabupaten/kota se-Indonesia. Inisiasinya dimulai ketika “10 Prinsip Kota Kreatif” dideklarasikan di Kota Bandung, bersamaan dengan penyelenggaraan Creative Cities Conference pada tanggal 26-27 April 2015.

ICCN dibentuk bertepatan dengan kegiatan Indonesia Creative Cities Conference pada tanggal 22-25 Oktober 2015 di Kota Solo. Saat ini, ada sekitar 200 kabupaten/kota yang tergabung dalam ICCN.

Editor : Christo Senduk

Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com