Connect with us

Politik dan Pemerintahan

Ranperda OPD Disahkan, Pansus Berikan Catatan Penting

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Sejumlah catatan penting dan strategis disampaikan oleh Panitia Khusus (Pansus) Pembahasan Ranperda Perubahan Atas Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Nomor 4 tahun 2016 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Catatan ini disampaikan Ketua Pansus Meiva Salindeho Lintang dalam Rapat Paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Sulut Andrei Angouw, Senin (5/11/2018).

Meiva memaparkan, setelah melakukan pembahasan bersama dengan sejumlah Badan dan Biro terkait, serta dihadiri langsung Sekprov Edwin Silangen, pihaknya mencermati masukan dari masing-masing fraksi yang ada di DPRD Sulut.

“Maka daripada itu, pansus mengingatkan agar dengan adanya perubahan ini, maka dapat menguatkan reformasi birokrasi di Pemerintah Provinsi Sulut, serta mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat, sebagaimana mengacu pada Permendagri 5 tahun 2017 tentang Pedoman Nomenklatur Perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota,” papar Meiva.

Khusus untuk peningkatan status Biro menjadi badan, Pansus berharap, akan diikuti dengan sumber daya manusia yang memadai, yang memiliki etos kerja yang tinggi serta sesuai dengan disiplin ilmu.

“Diharapkan juga tingkat koordinasi antara lembaga harus dioptimalkan, penempatan putra daerah, sehingga akan lebih fokus,” tambahnya.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey dalam sambutannya menyampaikan penghargaan kepada DPRD yang sudah menetapkan Ranperda ini. Olly berharap, agar dengan perubahan ini gerak dan langkah pemerintah Sulut akan makin optimal.

Dalam kesempatan yang sama, DPRD Sulut juga menetapkan KUA dan PPAS APBD 2019, untuk selanjutnya dibahas Banggar dan TAPD. (K-02)

Editor : Christo Senduk

Politik dan Pemerintahan

PDIP tolak PSU 53 TPS di Sulut

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulawesi Utara (Sulut) Badan Bantuan Hukum dan Advokasi, Denny Kaunang dan Jelly Dondokambey menyampaikan penolakan terhadap Pemungutan Suara Ulang (PSU) di 53 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di kabupaten/kota di Sulut, Sabtu (27/4/2019).

Alasan penolakan tersebut, menurut Kaunang dan Dondokambey adalah menanggapi surat dari KPU Sulut No 172/PL.02.6-SD/71/Prov/IV/2019 tertanggal 24 April 2019 terkait PSU.

Menurut keduanya, PDIP menerima surat dari KPU tidak secara langsung tetapi hanya melalui media sosial, tepatnya di Grup WA dalam Pemilu 2019 ditujukan kepada LO (Laisen Officer) Partai Politik pada Kamis (25/4/2019), sekira pukul 18.53 WITA.

Lanjut mereka, setelah membaca dan mempelajari isi surat, dengan tegas PDIP menolak digelarnya PSU serentak yang akan dilaksanakan di 53 TPS di 12 kabupaten/kota yang ada di Sulut.

”Menjadi alasan kami menolak pelaksanaan PSU di 12 kabupaten/kota tersebut adalah bahwa dasar penetapan PSU yang dikeluarkan oleh KPU Sulut berdasarkan rekomendasi Bawaslu kabupaten/kota serta Panwas Kabupaten,” ungkap mereka dalam konferensi pers yang digelar di Sekretariat DPD PDIP Sulut, Jumat (26/4/2019) sore.

Diakui kedua pengacara ini, bahwa saat pelaksanaan pemungutan suara di masing-masing TPS sudah ada penyelenggara pemilu, yaitu KPPS, Pengawas TPS dan PPL.

”Saat pelaksanaan pemungutan suara berlangsung, seharusnya KPPS selaku penyelenggara pemungutan suara harus menolak pemilih yang Tidak Memenuhi Syarat (TMS) sebagaimana yang disyaratkan dalam pasal 60 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu),” katanya.

Keduanya menegaskan, juga saat pelaksanaan pemungutan suara berlangsung, seharusnya Pengawas TPS menyampaikan keberatan dalam hal ditemukan dugaan pelanggaran, kesalahan dan atau penyimpangan administrasi pemungutan dan penghitungan suara sesuai dengan pasal 115 UU Nomor 7 tahun 2014 tentang Pemilu.

“Sangat ironis, semua TPS yang direkomendasikan pemungutan suara ulang oleh Bawaslu, seharusnya Pengawas TPS/PPL sudah harus keberatan dan menyelesaikan masalah pemilihan TMS di saat masih dalam proses penyelenggaraan pemungutan suara di TPS. Hal ini merusak dan membahayakan proses demokratisasi di Sulut,” pungkas Kaunang, sambil menyatakan surat penolakan ini telah disampaikan ke KPU dan Bawaslu Sulut. (K-02)

Editor : Christo Senduk

Continue Reading
Advertisement

Trending