Connect with us

PENDIDIKAN

Universitas ini syaratkan mahasiswa baru punya 10 ribu subscriber di Youtube

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta mencantumkan syarat itu.

Published

on

ZONAUTARA.com – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), mencantumkan salah satu syarat penerimaan mahasiswa baru adalah menjadi Youtuber.

Tidak tanggung-tanggung, syarat yang ditetapkan adalah harus punya minimal 10.000 subscriber. Saat diakses zonautara.com pada Jumat (14/6/2019), syarat itu masih terpajang di website:

“Diumumkan kepada calon pendaftar program sarjana jalur Seleksi Mandiri UPN Veteran Jakarta (SEMA UPNVJ) tahun 2019 terkait penerimaan mahasiswa baru program sarjana pada jalur SEMA UPNVJ antara lain:
Jalur Masuk SEMA UPNVJ terdiri dari:
a. Jalur Akademik yang menggunakan Nilai UTBK sebagai kriteria tunggal kelulusan.
b. Jalur Prestasi yang menggunakan gabungan Nilai UTBK dan Prestasi Akademik/Nonakademik. (Prestasi bidang olimpiade sains, olahraga dan seni peringkat 1-3 tingkat kabupaten/kota, Provinsi, Nasional, dan Internasional 3 tahun terakhir, Hafiz Al-Quran minimal 5 Juz, Ketua OSIS selama sekurangnya satu periode dan Youtube Content Creator minimal 10.000 subscriber).

Itulah sebagian cuplikan pengumuman Rektor UPNVJ bernomor 32/UN61/PG/2019 yang terpublikasi di website mereka.

Syarat menjadi content creator Youtube itu ramai ditanggapi netizen di Instagram.

@ahmad.fajri.trio: Keren juga nih kampus, bakal mencetak next atta halilintar.
@ivanlimbong88: Astaga kampus gw yg katanya kampus “bela negara”
@naufalfalahbintang: Kalo beli subscriber ketauan ga min”

Dinukil dari tirto.id, Rektor UPNVJ Erna Hernawati mengaku tidak mengetahui kalau persyaratan khusus yang dibuat rektorat itu ramai di media sosial.

“Belum tahu saya, soal ramai di medsos. Di Instagram apa? Coba nanti kasih linknya ke saya,” kata dia saat dikonfirmasi reporter Tirto, Kamis (13/6/2019).

Menjadi content creator di Youtube saat ini memang sedang diminati banyak orang. Pasalnya, youtuber yang banyak subscriber bisa mendatangkan penghasilan yang lumayan.

Tak heran saat ini banyak anak-anak tidak lagi bercita-cita menjadi dokter, hakim, tentara, tetapi bermimpi menjadi Youtuber.

Walaupun belum diketahui apa korelasi punya 10.000 subscriber dengan prestasi akademik, namun seleksi mahasiswa baru bertujuan menemukan kandidat yang paling sesuai dengan universitas dan fakultas yang disediakan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

PENDIDIKAN

AJI dorong kampus kembangkan jurnalisme data

Di tingkat global, tidak hanya media yang mengembangkan jurnalisme data, tetapi juga lingkungan kampus.

Published

on

Bayu Wardhana (AJI Indonesia) memfasilitasi diskusi FDG Kolaborasi membangun jurnalisme data di Indonesia. (Foto: AJI)

JAKARTA, ZONAUTARA.com – Tingginya akses informasi masyarakat melalui media sosial, menjadi tantangan tersendiri bagi media. Karena informasi tidak hanya ruang monopoli media. Kekuatan media adalah informasi yang telah melalui proses verifikasi dan pemanfaatan data dalam pemberitaan. Karena itu jurnalisme data atau jurnalisme berbasis data (data-driven journalism) terus berkembang, dan mulai diadopsi beberapa media nasional di Indonesia.

Di tingkat global, tidak hanya media yang terus mengembangkan genre jurnalisme ini, tapi juga lingkungan kampus. Di berbagai perguruan tinggi yang mengajarkan jurnalisme data, misalnya sekolah jurnalisme Columbia University, Stanford University, The University of Texas, The University of Hongkong, dan sebagainya.

“AJI sebagai salah satu lembaga yang mendukung tumbuhnya jurnalisme data mendorong keterlibatan kampus lebih jauh untuk pengembangan jurnalisme data,” kata Sekjend Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Revolusi Reza Zulverdi dalam diskusi terfokus “Membangun Kolaborasi Mengembangkan Jurnalisme Data di Indonesia” di Jakarta, Selasa (9/7).

Diskusi ini mengundang 20 akademisi wakil dari kampus-kampus yang memiliki Fakultas Komunikasi atau Jurusan Jurnalistik, seperti Universitas Indonesia, Universitas Pembangunan “Veteran” Indonesia, Universitas Multimedia Nusantara dan Universitas Bung Karno.

Revo menyampaikan bentuk kolaborasi yang didorong ke kampus adalah menjadikan jurnalisme data sebagai salah satu mata kuliah di kampus. “Mengingat kebutuhan industri media ke depan adalah jurnalis-jurnalis yang memiliki skill dan paham pemanfaatan data,” ujar Revo.

Focus Group Discussion (FGD) itu sekaligus mendiskusikan peluang kolaborasi antara organisasi profesi, dengan akademisi dari beberapa universitas untuk mengembangkan jurnalisme data di Indonesia.

Tenaga Ahli, Kantor Staf Presiden (KSP), Robertus Theodore, mendorong inisiatif ini dan mengatakan pendampingan ke pemerintah daerah untuk perbaikan standar layanan penyediaan data berbasis elektronik dan peningkatan kualitas data terus dilakukan.

“Banyak mahasiswa di luar negeri kesulitan mengakses data, harus pulang ke Indonesia karena sistem data belum elektronik. Komisi Informasi Pusat sedang didorong merevisi aturan ketersediaan data berbasis elektronik dan melakukan monitoring ketersediaan data,” ujar Robertus.

Robertus juga menyampaikan selain itu pemerintah telah menghasilkan regulasi untuk mendorong perbaikan data yang dihasilkan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Ada dua regulasi baru yang disahkan yaitu Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik dan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia.

“Yang penting sekarang demand pengguna data, agar KSP dapat mendorong pemerintah menyiapkan data yang sesuai dengan prinsip open data,” kata Robert saat presentasi di forum yang sama.

Karena itu KSP mendorong pemanfaatan data di kalangan jurnalis dan pengembangannya di kampus sekaligus untuk menghindari hoaks dan meningkatkan kualitas pemberitaan.

Dalam sesi ini, sekaligus diperkenalkan platform www.jurnalismedata.id, sebagai ruang belajar tentang jurnalisme data bagi jurnalis, mahasiswa dan publik. (**)

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com