Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

250 ribu tanda tangan serukan penghentian konsumsi daging anjing dan kucing

Petisi yang datang dari seluruh dunia ini, akan diserahkan ke Pemerintah Sulut

Bagikan !

Published

on

Anjing-anjing di dalam kerangkeng yang dijual di Pasar Tomohon. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MANADO, ZONAUTARA.com – Seruan untuk menghentikan konsumsi daging anjing dan kucing terus berdatangan. Berbarengan dengan itu, Animal Friends Manado Indonesia (AFMI) bersama aktivis internasional juga terus melakukan edukasi ke masyarakat.

Dua aktivis asal Belanda, Anika van Leeuwen dan Kees van Hal, menyayangkan praktik penyiksaan anjing dan kucing di pasar tradisional terutama di Tomohon.

Menurut kedua aktivis tersebut, praktik di pasar tersebut berbanding terbalik dengan keindahan alam yang dimiliki Sulawesi Utara, termasuk di Tomohon.

Anika juga menyayangkan, Indonesia yang sudah punya undang-undang perlindungan hewan, tetapi implementasinya tidak jalan. Penyiksaan terhadap hewan terus saja terjadi.

“Orang-orang hanya memalingkan wajah dan tak peduli dengan itu,” ujar Anika.

Pada Jumat (16/8/2019) pekan lalu, Anika dan Kees turun ke jalan membagi-bagikan bunga kepada masyarakat, sebagai bentuk kampanye dan edukasi. Di bunga itu diselipkan tulisan pesan untuk saling menghargai sesama ciptaan Tuhan.

Dua warga negara Belanda ini, bersama AFMI di hari yang sama mendatangi kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara untuk membawa petisi yang ditandatangani 250 orang dari seluruh dunia yang menyerukan penghentian konsumsi daging anjing dan kucing.

Namun karena tidak berhasil bertemu Gubernur Olly Dondokambey, mereka belum menyerahkan petisi tersebut.

Direktur AFMI, Mandane Parengkuan Supit mengatakan pihaknya telah siap membawa petisi dari seluruh dunia itu khusus untuk Sulawesi Utara.

Petisi ini diprakarsai oleh Dog Meat Free Indonesia dan organisasi dari dalam dan luar negeri lainnya. Di antaranya AFMI, Change For Animal Foundation, Four Paws, Care2, Animals Asia, Jakarta Animal Aid Network, Animal Friends Jogja, Humane Society International.

“Kami mencetak petisi ini berlembar-lembar, sangat banyak dan akan kami serahkan ke pemerintah provinsi,” ujar Mandane, Senin (19/8/2019).

Menurut Mandane, petisi ini sebagai keprihatinan dunia atas aksi kekerasan terhadap hewan di Sulawesi Utara dan konsumsi daging anjing dan kucing. Mereka menekankan bahwa anjing dan kucing adalah hewan peliharaan dan bukan makanan.

Pihaknya berharap semoga kedepannya pemerintah Sulawesi Utara lebih peduli dan memperhatikan isu-isu seperti ini karena juga berkaitan langsung dengan kesehatan dan keamanan masyarakat seperti penyebaran rabies serta penyakit-penyakit lainnya.

Para aktivis ini juga berharap penegakan aturan hukum yang sudah ada yang soal kesejahteraan hewan seperti yang tercantum dalam Pasal 302 KUHP dan PP 95 Tahun 2012 tentang Kesejahteraan Hewan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi

Lingkungan dan Konservasi

5 orang petambang emas tanpa ijin ditangkap di TN Bogani Nani Wartabone

Ikut diamankan satu unit eskavator.

Bagikan !

Published

on

KOTAMOBAGU, ZONAUTARA.COM – Tim Gabungan dari Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Seksi Wilayah III Manado – Balai Gakkum Wilayah Sulawesi bersama dengan Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta Satuan BRIMOB Batalyon B Inuai, berhasil menyita peralatan petambang emas tanpa ijin di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Adapun peralatan yang disita tersebut berupa satu satu unit eskavator, Ikut diamankan lima orang pelaku.

Dari hasil pemeriksaan PPNS LHK Balai GAKKUM LHK Wilayah Sulawesi ditetapkan dua orang yaitu HA (37) dan SM (38) sebagai tersangka atas kegiatan tambang emas tanpa ijin tersebut.

Pada Jumat, 21 Februari 2020, kedua tersangka HA (37) dan SM (38) ditahan oleh PPNS LHK Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi dan dititipkan di RUTAN Kelas II B, Kota Kotamobagu.

Barang bukti eskavator untuk sementara diamankan di Kantor Balai TN. Bogani Nani Wartabone.

Dari rilis yang diterima Zonautara.com, kasus ini bermula dari Kegiatan Patroli Resort Based Management (RBM) Balai TN. Bogani Nani Wartabone, yang melaporkan adanya kegiatan tambang emas tanpa ijin di lokasi Potolo, Desa Tanoyan Selatan.

Laporan itu dan kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gabungan SPORC, Polisi Kehutanan Balai TN. Bogani Nani Wartabone dan Satuan BRIMOB Batalyon B Inuai.

Kedua tersangka dijerat pasal 89 ayat (1) jo Pasal 17 Ayat (1) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda paling banyak Rp. 10 miliar.

Kepala Balai TN. Bogani Nani Wartabone, drh. Supriyanto menyayangkan kegiatan ilegal tesebut.

“Penambangan emas tanpa ijin di Kawasan TN. Bogani Nani Wartabone dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem Taman Nasional Bogani Nani Wartabone,” ujar Supriyanto, Senin (24/2/2020).

Sementara itu Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi, Dodi Kurniawan, S.Pt, MH menyatakan akan berkomitmen terus melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan pengrusakan lingkungan hidup dan kehutanan termasuk kegiatan yang dapat merusak Kawasan Taman Nasional.

“Dari kegiatan penambangan emas tanpa ijin di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini diharapkan penangkapannya dapat dikembangkan ke aktor intelektualnya, untuk memberikan efek jera,” tegas Kurniawan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com