Connect with us

Hukum dan Kriminal

Aniaya dua pria dengan parang, oknum sopir angkot diciduk URC Totosik

Published

on

Pelaku bersama barang bukti saat diamankan Tim URC Totosik. (Foto: Istimewa)

TOMOHON, ZONAUTARA.comPeristiwa penganiayaan dengan menggunakan senjata tajam jenis parang terjadi di Kota Tomohon, Kamis (26/12/2019) dini hari.

Kali ini, peristiwa penganiayaan dengan korban masing-masing, Denny Lantang dan Dandy Tulung ini terjadi di Lingkungan I, Kelurahan Tumatangtang, Kecamatan Tomohon Selatan.

Pelakunya, yakni VP alias Vin (17), warga Lingkungan Satu, Kelurahan Tumatangtang, Kecamatan Tomohon Selatan.

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Totosik Polres Tomohon yang mendapatkan laporan dari masyarakat tentang penganiayaan tersebut langsung menuju ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Komandan Tim (Katim) URC Totosik Bripka Yanny Watung mengatakan, saat tiba di TKP, pihaknya tidak mendapati pelaku karena sudah melarikan diri. Sementara, kedua korban sudah dilarikan ke Rumah Sakit Gunung Maria.

Menurut Watung, timnya langsung mengumpulkan bahan keterangan yang ada di lokasi, mencari identitas pelaku dan korban, kemudian menuju RS Gunung Maria untuk mengumpulkan keterangan dari kedua korban.

Setelah mendapatkan keterangan dari korban, kata Watung, pihaknya langsung memburu pelaku yang berprofesi sebagai supir angkot itu.

“Kami melakukan penyisiran seputaran TKP kemudian dilanjutkan dengan menyisir seputaran wilayah Tumatangtang sampai sekitar pukul 05.00 WITA, namun belum membuahkan hasil,” katanya.

Kemudian, lanjut Watung, sekitar pukul 19.00 WITA, Tim URC Totosik mendapatkan informasi, bahwa pelaku sedang berada di rumah salah satu rekannya di wilayah Tumatangtang.

“Saat mengetahui keberadaan pelaku, kami langsung bergerak hingga berhasil mengamankan pelaku tanpa perlawanan, kemudian mengamankan barang bukti senjata tajam jenis parang yang digunakan pelaku, yang disembunyikan di dapur rumahnya,” ungkap Watung.

Usai mengamankan pelaku, pihaknya pun mendatangi rumah saksi dan dibawa ke Mapolres Tomohon untuk dimintai keterangan.

Dari hasil interogasi awal terhadap pelaku dan saksi, sebut Watung, didapati fakta, bahwa pada Kamis dini hari sekitar pukul 00.45 WITA, pelaku dan saksi yang saat itu mengendarai sepeda motor melintas di perempatan Gereja Syaloom Tumatangtang.

Tiba-tiba, kedua korban bersama rekan-rekannya yang pada saat itu sedang berada di depan Gereja Syaloom memanggil pelaku bersama saksi, hingga pelaku memutar balik kendaraan dan menghampiri mereka.

“Tanpa sebab, tiba-tiba kedua korban diduga berusaha melakukan pemukulan terhadap pelaku, namun berhasil dihindari oleh pelaku. Merasa tidak senang atas perlakuan korban, pelaku kembali ke rumahnya untuk mengambil senjata tajam jenis parang dan kembali ke lokasi korban,” ujarnya.

Saat sampai di lokasi, pelaku langsung melakukan penganiayaan terhadap korban menggunakan senjata tajam jenis parang yang dibawanya. Setelah melakukan aksinya, pelaku langsung meninggalkan lokasi.

Saksi yang pada saat kejadian merasa takut langsung meninggalkan lokasi dan pergi ke rumah rekannya di wilayah Kelurahan Walian.

“Akibat kejadian tersebut, kedua korban mengalami luka akibat sabetan parang,” tuturnya.

Pelaku bersama barang bukti sebilah parang pun kini diamankan di Mapolres Tomohon.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Beri Donasi

Hukum dan Kriminal

Polisi ungkap video viral siswi SMK di Bolmong

Kepala Sekolah, guru, serta orang tua juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

Bagikan !

Published

on

Foto: Marshal D.

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Polisi akhirnya berhasil menungkap video pelajar perempuan yang tengah digerayangi sejumlah pelajar lainnya. Video berdurasi 25 detik tersebut tiba-tiba viral di media sosial pada, Senin (9/3/2020).

Setelah diselidiki, diketahui video tersebut dibuat oleh sejumlah pelajar di satu SMK Negeri di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Kapolres Bolmong AKBP Indra Pramana, saat diwawancarai wartawan di Mapolsek Bolaang mengatakan, lima orang berstatus Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang diduga telah melakukan perbuatan mengarah ke persekusi terhadap salah satu dari mereka.

“Iya, kita sudah amankan semua pihak yang terlibat dalam video. Termasuk korban kita sudah mintai keterangan. Alat bukti berupa satu buah handhone sudah kita amankan juga,” ungkap Indra.

Pihaknya, kata Kapolres Bolmong, saat ini masih sementara mendalami kasus tersebut. Kepala Sekolah, guru, serta orang tua juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

Tapi menurutnya, harus hati-hati dalam menangani persoalan ini. Bahkan, semua yang terlibat dalam perbuatan tersebut tidak boleh disebut pelaku.

“Secara regulasi, karena mereka ini masih berstatus anak, mereka tidak boleh disebut pelaku. Mereka adalah ABH. Intinya bahwa kita masih sementara mendalami kasus ini. Termasuk memanggil kepala sekolah dan guru. Nanti setelah itu kemudian kita bisa dapat siapa yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini. Siapa yang lalai, dan siapa yang membiarkan,” tandasnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bolmong AKP M. Ali Tahir menambahkan, dari keterangan para ABH dan terduga korban bahwa pada awalnya mereka hanya bercanda.

Menurutnya, para ABH bisa dikenakan sanksi sebagaimana Pasal 82, Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 tentang pelindungan anak. ABH yang kita periksa adalah RSM (17 tahun). Dia yang merekam. Kemudian MP (17), PS (16) NR (17), dan PN (17). Diduga korban berinisial RG (16).

“Mereka semua teman sekelas dan akrab. Kelas XI di salah satu SMK di Bolmong,” bebernya.

Disebutkannya, video itu awalnya dibuat pada 26 Februari 2020 lalu.
Kemudian, diupload ke Whatsapp (WA) story, Senin (09/03/2020), sekitar pukul 12.00 Wita oleh salah satu pelajar. Tapi tiba-tiba beredar dan langsung viral.

“Nah, yang menyebarkannya ini yang masih dalam penyelidikan.
Mungkin ada yang mengambil dari WA story kemudian dibagikan ke media sosial. Untuk penyebar video itu masih akan diselidiki lagi karena berkaitan dengan undang-undang ITE,” pungkas Tahir.

Secara terpisah, Kepala Sekolah SMK bersangkutan mengaku syok saat mendengar informasi tersebut dari wakil kesiswaan yang menghubunginya via ponsel, kemarin. Kendati begitu, dirinya tetap bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan anak didiknya itu.

“Mereka adalah anak didik saya. Kami dari pihak sekolah juga terus berupaya mengontrol dan memberikan pengarahan kepada para pelajar. Saya tidak pernah menyangka dan membayangkan akan terjadi seperti ini. Untuk sanksi masih menunggu perkembangan termasuk dari aparat kepolisian,” ujarnya.

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com